Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Sabtu, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 Desember 2019

Ini Alasan Orang Indonesia Pilih Berobat ke Luar Negeri

Senin 22 Jul 2019 14:35 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Christiyaningsih

Konsultasi dokter/ilustrasi

Konsultasi dokter/ilustrasi

Foto: medicalcareers.nhs.uk
Berobat ke luar negeri bukan berarti akan mendapatkan angka kesembuhan lebih tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Baru-baru ini Indonesia dikejutkan dengan meninggalnya Ustaz Arifin Ilham karena kanker nasofaring. Sebelumnya, mantan ibu negara Ani Yudhoyono juga berpulang ke rahmatullah karena kanker darah. Mereka berdua memilih berobat ke luar negeri untuk mengobati kankernya.

Apa sebenarnya alasan pasien kanker Indonesia pergi berobat ke luar negeri? Ketua PP Perhompedin, Djumhana Atmakusuma, mengatakan sebenarnya pasien Indonesia yang berobat ke luar negeri tidaklah banyak. Menurutnya masih banyak pasien yang antre berobat dokter di dalam negeri.

Hanya saja masalah dua tokoh nasional tersebut yang kebetulan sakit kanker membuat seolah-olah banyak yang berobat ke luar negeri. "Itu hak pasien melakukan pengobatan. Kami juga mempersilakan pasien, apakah ini second opinion, apakah ingin expert, apakah ingin tempat yang ada fasilitas," ujarnya.

Pasien biasanya mencari tempat yang paling nyaman untuk berobat. Menurut Djumhana itu hak mereka sebagai pasien untuk mencari. "Tidak banyak dibanding yang berobat di Indonesia, kami tidak melarang. Kami mengirim untuk mencari pengobatan yang terbaik."

Djumhana mengatakan pasien Indonesia ke luar negeri harus dibatasi. Jadi memang ada yang tidak perlu ke sana. Pengobatan di Malaysia lebih murah lantaran pemerintah mendukung jasa medis di sana.

Selain itu, pemerintah Malaysia dan Singapura juga membuat medical tourism karena mereka tidak memiliki alam yang indah untuk dijual. "Orang Amerika kalo berobat ke sana, jauh lebih murah jadi sekalian berlibur," ungkap Djumhana.

Ia mengatakan Indonesia juga harusnya bisa menjual medical tourism. Tenaga medis dan rumah sakit juga harus memberikan pelayanan lebih baik untuk pasien. "Tidak betul kalau dokter Indonesia bodoh. Itu tidak betul," tegasnya.

Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Penyakit dalam Indonesia (Perhompedin) Jaya, Ronald A. Hukom, menambahkan masyarakat Indonesia berobat ke luar negeri bukan berarti akan mendapatkan angka kesembuhan lebih tinggi. Berobat ke luar negeri juga belum tentu memperoleh pelayanan yang lebih baik.

Pergi berobat ke luar negeri bisa menjadi second opinion. Tapi sebaiknya sebelum berobat ke luar negeri seperti Malaysia dan Singapura sebaiknya dipikir terlebih dahulu.

Senada, Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI), Aru Wisaksono Sudoyo, mengatakan negara lain dituju untuk mencari second opinion. Namun second opinion jadi kebiasaan sehingga walau diagnosis dilakukan di Indonesia, pasien mencari second opinion di negara lain.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA