Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Ini Alasan Mengapa Biaya Pengobatan Kanker Mahal

Senin 22 Jul 2019 12:53 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Christiyaningsih

Terapi radiologi untuk kanker. Ilustrasi

Terapi radiologi untuk kanker. Ilustrasi

Foto: Typesoftumors
Biaya pengobatan kanker mahal lantaran pajak untuk alat kesehatan tinggi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker menjadi penyakit yang memiliki biaya pengobatan tinggi. Ketua Perhimpunan Hematologi Onkologi Penyakit dalam Indonesia (Perhompedin) Jaya, Ronald A.Hukom, mengakui kanker masih merupakan masalah yang cukup besar termasuk dalam hal pembiayaan.

Besarnya biaya pengobatan kadang menghambat layanan yang diterima pasien. Bahkan besarnya biaya yang harus ditanggung untuk mengobati kanker kadang dikeluhkan BPJS Kesehatan. Menurut Ronald, biaya mahal ini terjadi lantaran pajak untuk alat kesehatan tinggi karena dianggap sebagai barang mewah.

"Sehingga biaya untuk pasien tinggi," ujarnya di sela acara konferensi pers Simposium dan Workshop The Role of Internist in Cancer Management (ROICAM) belum lama ini.

Selain itu, biaya obat-obatan di Indonesia juga mahal. Kondisi ini tidak seperti di Malaysia yang jauh lebih murah karena pemerintahnya sangat mendukung kesehatan. "Obat-obatan juga belum seperti Malaysia. Banyak obat kanker lebih murah di Malaysia," ungkapnya.

Ketua Perhimpunan Onkologi Indonesia (POI) Aru Wisaksono Sudoyo menambahkan angka Globocan menyebut ada 350 ribu pasien kanker baru dalam satu tahun. Menurutnya biaya pengobatan kanker memang tidak terlalu besar dibanding penyakit jantung secara persentase.

Akan tetapi jika dikalikan 250 juta penduduk, jumlahnya menjadi banyak. "Walaupun secara total biaya pengobatan penyakit jantung jadi nomor satu di Indonesia, tapi pasien kanker tinggi," ungkap dokter yang juga merupakan Ketua Yayasan Kanker Indonesia (YKI).

Untuk pengobatan kanker stadium lanjut biayanya bisa mencapai ratusan juta. Bahkan ada yang sekali infus menelan biaya Rp 100 juta. "Karena itu deteksi dini jadi penting," jelas Aru.

Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, prevalensi kanker di Indonesia saat ini adalah 4,3 per 1.000 penduduk. Kanker menjadi penyebab kematian nomor tujuh (5,7 persen) dari seluruh kematian di Indonesia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA