Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Saturday, 10 Rabiul Akhir 1441 / 07 December 2019

Ternyata Debu Dalam Ruangan Bisa Pengaruhi Kesehatan

Senin 22 Jul 2019 06:14 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Debu rumah tangga penuh dengan organisme yang ditentukan oleh lokasi dan siapa yang tinggal di dalamnnya. Sebagian besar bakteri di rumah dihasilkan oleh para penghuninya sendiri.

Debu rumah tangga penuh dengan organisme yang ditentukan oleh lokasi dan siapa yang tinggal di dalamnnya. Sebagian besar bakteri di rumah dihasilkan oleh para penghuninya sendiri.

Foto: soulofaword
Masyarakat diminta menjaga debu termasuk melepas jaket dan sepatu di luar rumah

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Udara Jakarta memang sangat memperihatinkan dengan tingkat polusi yang tinggi. Kondisi ini membuat banyak orang memilih menghabiskan waktu di dalam ruangan, namun, tunggu dulu, ada masalah yang bisa hadir pula pada bagian ini, yaitu debu.

Untuk mengukur pengaruh lingkungan terhadap kesehatan, para peneliti telah mulai menggunakan pendekatan "paparan" dan debu adalah komponen besar dari paparan. Profesor ilmu bumi Gabriel Filippelli  bersama ilmuwan lingkungan Mark Taylor di Macquarie University melakukan proyek penelitian tentang paparan dalam ruangan.

Penelitian ini mengambil sampel dari debu yang diambil dari penyedot debut yang ada di rumah-rumah. Proyek yang disebut Analisis Debu 360 adalah salah satu dari sejumlah upaya terbaru yang mulai memecahkan kode pada debu dalam ruangan.

Sekitar sepertiga dari debu rumah dibuat di dalam rumah. Komponen-komponennya berbeda tergantung pada konstruksi dan usia rumah, iklim, serta kebiasaan membersihkan, perokok yang ada, sehingga tidak ada formula standar untuk debu.

Komponen-komponen debu pun masih masih dihasilkan dari banyak hal lainnya, seperti kulit manusia, hewan peliharaan, serangga yang membusuk, sisa-sisa makanan, serat dari karpet, selimut dan pakaian, hingga hasil dari memasak. Ada pula yang dihasilkan dari bahan kimia perawatan pakaian hingga rumah.

Satu hal yang mencengangkan saat ini partikel debu bisa ditemukan di mana saja, baik dari orang dewasa, binatang peliharaan hingga tubuh bayi yang baru lahir.

Untuk mengatasi produksi debu berlebihan, lingkungan dalam ruangan yang bebas dari hewan peliharaan dan serat akan menjadi salah satu cara untuk mengurangi jumlah dan potensi dalam ruangan. Namun, ada kekhawatiran tambahan yang muncul dari penelitian ini, yaitu, munculnya resistensi antimikroba.

Penelitian telah menghubungkan beberapa produk desinfeksi dalam ruangan dengan resistensi antimikroba. Setidaknya satu studi menemukan peningkatan kadar triclosan, agen antimikroba yang umum dalam sabun tangan, berkorelasi dengan tingkat gen tahan antibiotik yang tinggi dalam debu. 

Hubungan ini disebabkan oleh penghancuran bakteri dan mikroba parsial, namun, tidak lengkap, yang terus tumbuh dan berkembang biak, membawa gen-gen resisten, dikutip dari Washingtonpost, Senin (22/7). 

Oleh karena itu para peneliti menyarankan agar sebisa meninggalkan jaket dan sepatu di luar rumah. Alasannya jaket membawa debu sementara sepatu hampir 96 persen membawa mikroba dari luar rumah. 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA