Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Tips Memulai Investasi Aset Kriptokurensi

Jumat 19 Jul 2019 08:35 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Indira Rezkisari

Bitcoin.

Bitcoin.

Foto: Reuters/Benoit Tessier
Pastikan kredibilitas perusahaan hingga CEO penjual kriptokurensi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Memiliki pemasukan tambahan di luar pendapatan bulanan merupakan salah satu cara untuk memenuhi kebutuhan hidup. Berbagai cara untuk memiliki pemasukan tambahan pun juga beragam dilakukan banyak orang.

Baca Juga

Salah satu opsi yang bisa dilakukan dalam rangka memiliki pemasukan tambahan adalah dengna cara berinvestasi. Akan tetapi, tak jarang orang juga merasa takut dan ragu untuk menginvestasikan uangnya karena banyaknya kasus penipuan ataupun investasi bodong.

Community Event Lead, dari perusahaan global bidang pertukaran aset kriptokurensi yaitu Luno Indonesia, Debora Valentini Ginting, memberikan sejumlah tips bagi orang-orang yang baru akan memulai investasi kriptokurensi. Tips yang pertama adalah mengalokasikan dana yang cukup untuk membeli aset kriptokurensi.

“Yang pertama kita harus tahu berapa jumlah yang ingin kita belikan. Karena banyak orang selama ini memahami konsep yang  salah, bahwa saya harus beli berapa unit bitcoin. Sementara harga bitcoin itu saat ini Rp 168 juta, jadi dikiranya harus segitu. Makanya banyak orang yang tidak berani,” jelas Debora.

Dana yang dialokasikan untuk membeli aset sebenarnya tak begitu banyak. Di Luno sendiri, kata dia, aset kriptokurensi bisa terbeli bahkan dengan dana sejumlah minimal Rp 15 ribu. Jadi, aset bisa dibeli dengan sejumlah uang yang kita miliki.

Tips yang kedua, lanjutnya, memperhatikan sisi perusahaan pertukaran aset kripto itu sendiri. Hal-hal yang harus diperhatikan adalah kredibilitas perusahaan itu. Cara untuk melihat kredibilitas perusahaannya adalah dengan memeriksa di mana saja perusahaan itu beroperasi.

“Contohnya apakah dia hanya di satu negara, atau di banyak negara. Kalau di Luno, misalnya, sudah beroperasi di 40 negara di dunia,” jelas dia.

Cara lain  untuk melihat kredibilitas perusahaan adalah memeriksa orang-orang termasuk karyawan dan CEO perusahaan. Hal itu bisa diperiksa dari ada berapa karyawan yang bekerja dan latar belakang para karyawannya.

Termasuk latar belakang CEO-nya sendiri. “Jangan-jangan CEO-nya dulu pernah melakukan penipuan atau apa. Jadi rekam jejak itu akan mempengaruhi perusahaan itu sendiri,” jelas dia.

Cara lainnya, adalah dengan memeriksa investornya. Sebab, menurutnya, sebelum investor memberikan dana kepada perusahaan itu, investor pastinya akan melakukan analisa, seperti apakah perusahaan ini akan bertahan atau tidak, apakah perusahaan ini cukup aman untuk iklim investasi atau tidak.

“Kalau memang investornya terjamin, atau kredibel dan kelas dunia, kita bisa yakin bahwa dana kita itu memang aman di situ,” ungkapnya.

Tips yang ketiga adalah memeriksa segi keamanan investasi di perusahaan itu. Sebelum bertransaksi kriptokurensi, masyarakat harus paham terlebih dahulu bahwa transaksi menggunakan blockchain di mana orang tidak bisa membatalkan transaksinya. Dengan sistem blockchain, maka keamanan dari peretas pun akan terminimalisasi.

“Jadi kita harus tahu, keamanannya itu seperti apa, dan kita harus tahu sistem keamanan apa saja yang harus kita gunakan,” jelas Debora. Misalnya, di Luno sendiri, masyarakat akan direkomendasikan fitur keamanan kata sandi minimal delapan digit, atau otentikasi dua faktor untuk melindungi sandi.

Tips keempat adalah, perlu banyak mencari informasi mengenai aset kriptokurensi apa yang akan dibeli. Sebab, saat ini, aset kriptokurensi sangatlah banyak.

“Kita harus tahu aset kripto yang mana yang cocok untuk saya investasikan. Kita bisa lihat dari keamanan aset kriptonya, protofolio aset kriptonya seperti pergerakan harganya seperti apa, dan potensi masa depannya. kita bisa lihat dari bagaimana adopsi pasarnya,” jelas dia.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA