Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

HIV/AIDS Paling Banyak Dialami Usia Produktif

Kamis 18 Jul 2019 17:22 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Indira Rezkisari

HIV/AIDS di Indonesia.

HIV/AIDS di Indonesia.

Foto: Republika
Pemahaman kesehatan reproduksi penting untuk terhindar dari HIV/AIDS.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan prevalensi Human Immunodeficiency Virus (HIV)/ acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) cukup tinggi pada kelompok umur produktif. Yaitu di rentang usia 20 hingga 29 tahun.

Baca Juga

Direktur Pencegahan Dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung Kemenkes Wiendra Waworuntu mengatakan, prevalensi HIV yang dilaporkan cukup tinggi di kelompok usia 20-24 tahun dan 25 hingga 29 tahun. Ia menyebut selama 2016, kasus HIV secara nasional usia 20-24 tahun sebanyak 7.154 dan rentang umur 25 tahun sampai 49 tahun sebanyak 28.602.

"Kemudian di 2017 persentase kasus HIV umur 20-24 tahun sebanyak 8.252 dan umur 25 hingga 49 tahun sebanyak 33.448. Terakhir di 2018,  kasus HIV usia 20-24 tahun sebanyak 7.068 dan umur 25 hingga 49 tahun sebanyak 32.487," katanya saat peluncuran survei kesehatan reproduksi dan edukasi seksual oleh kelompok konsumen remaja di lima kota besar Indonesia, di Jakarta, Kamis (18/7).

Menurutnya, angka infeksi baru HIV di Indonesia masih tinggi karena adanya stigma dan diskriminasi terhadap orang dengan HIV/AIDS termasuk di layanan kesehatan. Karena itu, ia menyebut pemahaman tentang kesehatan reproduksi sangat penting untuk segenap remaja agar mereka terhindar dari penyakit menular seksual, termasuk HIV/AIDS.

Ia juga mengapresiasi dukungan dan perhatian semua pihak tentang pentingnya pemahaman tentang kesehatan reproduksi dan seksual bagi generasi muda, umumnya para calon generasi bangsa. Selain itu, ia menyebut para petugas di fasilitas kesehatan juga perlu meningkatkan pemahamannya tentang cara pencegahan dan penularan HIV/AIDS dan diubah sikapnya terhadap ODHA supaya jadi berempati.

"Kemudian pentingnya kemampuan petugas melakukan intervensi penghapusan stigma dan diskriminasi, khususnya dalam pemberian pelayanan kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan (fasyankes) secara sistematis dan terencana," ujarnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA