Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Anak Penderita Kanker Juga Butuh Nutrisi Seimbang

Rabu 17 Jul 2019 05:05 WIB

Red: Ani Nursalikah

Anak-anak penderita kanker bermain dan belajar.

Anak-anak penderita kanker bermain dan belajar.

Foto: Republika/Yasin
Kebutuhan energi dan protein anak penderita kanker meningkat karena komplikasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- External Communication Manager for Early Life Nutrition and Medical Nutrition Danone Indonesia Desytha Rahma Dwi Utami menyebutkan pemenuhan nutrisi seimbang pada anak dengan penyakit tidak menular merupakan tantangan tersendiri bagi orang tua.

"Masih banyak orang tua yang merasa senang kalau anaknya disebut gemuk karena dianggapnya lucu dan menggemaskan, padahal anggapan tersebut tidak sepenuhnya benar," ujarnya, Selasa (16/7).

Baca Juga

Bisa saja anak yang gemuk itu ternyata mengalami malnutrisi akibat penyakit tertentu bahkan penyakit kanker. Malnutrisi atau kurang gizi bukan saja ditandai anak yang kurus saja, namun anak yang terlalu gemuk (obesitas) juga dapat disebut seperti itu. Saat ini, kondisi malnutrisi ganda di Indonesia, baik stunting maupun obesitas, masih menjadi topik yang cukup sering diperbincangkan publik.

Berbagai kondisi malnutrisi pada dasarnya disebabkan oleh asupan nutrisi yang tidak dapat memenuhi atau sudah melampaui kebutuhan dasar anak sesuai dengan tahapan tumbuh kembangnya.  Persoalan nutrisi ini juga tidak hanya dialami bagi anak-anak normal, tetapi seringkali terdapat kondisi khusus pada anak yang mengharuskan orang tua memberi perhatian lebih terhadap kebutuhan nutrisinya, seperti anak dengan penyakit kanker.

Di Indonesia, terdapat 3-5 persen prevalensi kanker pada anak (4.156 kasus). Saat ini, terdapat hingga 60 persen pasien anak dengan kanker yang terdiagnosa malnutrisi, bergantung pada tipe kanker, jenis terapi, dan metode pengukuran.

Namun data mengenai kondisi malnutrisi pada anak dengan kanker masih memerlukan penelitian yang lebih mendalam. Meskipun demikian, sebuah studi di RSUP Dr Kandou Manado menunjukkan 32,3 persen anak berstatus gizi kurang dan 12,9 persen mengalami obesitas yang dinilai saat akhir induksi kemoterapi.

Kanker pada anak sendiri merupakan penyebab terbanyak kematian anak di negara Barat. Mururul Aisyi, Sp.A(K) menjelaskan saat ini, angka kejadian kanker pada anak mencapai 9 dari 100 ribu anak usia 0-17 tahun yang tersebar di seluruh Indonesia dengan jenis yang beragam. Kasus yang paling sering adalah leukemia, retinoblastoma, osteosarcoma, neuroblastoma, limfoma maligna, karsinoma, dan nasofaring.

Kanker memang memiliki tantangan sendiri, terutama pada fluktuasi kebutuhan nutrisi. Walaupun demikian, bukan berarti anak dengan kanker tidak berkesempatan memiliki tumbuh kembang optimal. Justru, mereka membutuhkan asupan nutrisi yang lebih diperhatikan saat menjalani penanganan medis.

"Pasien anak dengan kanker rentan mengalami berbagai kondisi malnutrisi akibat peningkatan konsumsi energi maupun gangguan absorbsi nutrisi yang dapat disebabkan oleh penanganan/pengobatan, atau penyakit itu sendiri," katanya.

Beberapa jenis penanganan yang dapat mempengaruhi kondisi status nutrisi umumnya adalah efek samping dari kemoterapi; seperti muntah, anorexia, dan malabsorbsi; hingga peningkatan nafsu makan akibat konsumsi obat anti peradangan seperti kortikosteroid.

"Dari pengalaman kami selama ini mendampingi pasien anak kanker, kami menyakini perubahan terbesar dimulai dari keluarga, khususnya orang tua kepada anaknya yang sedang menjalani perawatan kanker," ujar Ketua Yayasan Pita Kuning Anak Indonesia Steny Agustaf.

Dokter spesialis anak Cut Nurul Hafifah menjelaskan, setiap anak yang memiliki masalah pada pemenuhan nutrisi rentan mengalami kondisi malnutrisi, apalagi anak dengan penyakit tidak menular seperti kanker. "Anak dengan penyakit kanker umumnya mengalami peningkatan kebutuhan energi dan protein akibat adanya berbagai komplikasi," ujarnya.

Apabila masalah nutrisinya tidak ditangani dengan baik, anak dengan kanker dapat memiliki konsekuensi seperti stunting, peningkatan risiko komplikasi, menurunnya respon dan toleransi terhadap pengobatan, mudah relaps (kambuh) dan menurunnya tingkat kelangsungan hidup.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA