Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Monday, 18 Zulhijjah 1440 / 19 August 2019

Jifolk Diharapkan Genjot Pariwisata Temanggung

Selasa 16 Jul 2019 00:30 WIB

Rep: Ali Mansur/ Red: Christiyaningsih

Para penari dari dalam dan luar negeri turut memeriahkan Java International Folklore (Jifolk), Festival Sindoro-Sumbing di Temanggung, Jawa Tengah, Ahad (14/7) malam.

Para penari dari dalam dan luar negeri turut memeriahkan Java International Folklore (Jifolk), Festival Sindoro-Sumbing di Temanggung, Jawa Tengah, Ahad (14/7) malam.

Foto: Dok Panitia
Jifolk 2019 merupakan salah satu rangkaian dari Festival Sindoro-Sumbing

REPUBLIKA.CO.ID, TEMANGGUNG -- Dinginnya angin malam di sekitar lembah Gunung Sindoro dan Sumbing tak membuat ribuan masyarakat Temanggung beranjak. Mereka sangat menikmati pentas berbagai macam tarian tradisional dalam Java International Folklore atau Jifolk di alun-alun Temanggung.

Baca Juga

Di panggung, para penari tampak asyik melenggak-lenggok. Malam itu, Sabtu (14/7), merupakan hari terakhir perhelatan Jifolk 2019 yang merupakan salah satu rangkaian dari Festival Sindoro-Sumbing. Festival ini digelar sejak 9 Juni hingga 27 Juli mendatang.

Festival Sindoro-Sumbing terselenggara berkat kerja sama antara Kabupaten Temanggung, Kabupaten Wonosobo, serta pemerintah pusat. Gelaran Jifolk diharapkan dapat menggenjot pariwisata Kabupaten Temanggung.

"Selain untuk mengembangkan kebudayaan, Jifolk juga diharapkan mampu menggenjot sektor pariwisata tentunya berdampak pada perekonomian daerah. Apalagi Temenggung cukup strategis hanya ditempuh dalam waktu dua jam ke maupun dari tiga kota besar, Yogyakarta, Solo, dan Semarang," ungkap Bupati Temanggung Muhammad Al Khadziq saat ditemui Ahad (14/7).

Sebetulnya, kata Al Khadziq, sektor wisata alam Temanggung tidak kalah menawannya dibanding Wonosobo yang memiliki peninggalan sejarah Candi-candi di Dieng serta Magelang dengan Borobudurnya. Hanya saja, peninggalan sejarahnya tidak seikonik Borobudur dan Dieng.

Maka untuk menggenjot sektor pariwisata, Temanggung harus menonjolkan ikon dari warisan sejarah tak benda. Karena, tidak mungkin Temanggung membangun candi semegah Borobudur. Salah satu ikon yang ditonjolkan adalah seni Kuda Lumping atau Jaran Kepang.

"Jaran Kepang sudah diakui secara nasional dan diakui dunia sebagai kesenian asli dari Temanggung. Kesenian ini sedang kita perjuangkan ke UNESCO untuk mendapat pengakuan sebagai warisan sejarah dunia dari Temanggung," jelasnya.

Selain potensi pertanian seperti tembakau, kopi, buah-buahan, dan sayur-sayuran, Pemkab Temanggung juga ingin mengembangkan industri kreatif. Salah satunya adalah dengan menyelenggarakan event-event pariwisata seperti Jifolk.

Jifolk juga diharapkan menjadi embrio untuk melahirkan Temanggung sebagai kota festival. "Dari evaluasi pertunjukan selama tiga hari Jifolk, kita semakin kuat pada kesimpulan bahwa DNA masyarakat Temanggung adalah sesungguhnya DNA kebudayaan. Saya tidak yakin jika kita mengadakan konser musik modern tentu tidak akan seramai ini," ungkap Al Khadziq.

 

Jifolk 2019 juga sebagai sarana unjuk diri para pegiat dan penggiat kesenian lokal. Dengan adanya fasilitas ini, komunitas seni semakin semangat berkreasi tanpa menghilangkan identitas tradisinya. Pada akhirnya, aktivitas tersebut dapat menggerakkan roda perekonomian di Temanggung seperti halnya Yogyakarta dan kota budaya lainnya.

Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kemendikbud, Nadjamuddin Ramly, menyampaikan untuk menggenjot pengembangan dan penguatan kebudayaan pemerintah daerah harus menambah anggaran untuk kebudayaan pada APBD. Menurutnya salah satu indikator seorang Bupati yang peduli dengan budaya dilihat dari seberapa besar APBD untuk sektor kebudayaan.

"Karena pariwisata tidak bisa dijual kalau kebudayaannya amburadul. Jadi kalau ingin pariwisatanya dikunjungi oleh wisatawan mancanegara atau domestik, maka perbaiki sektor kebudayaan,” tegas Nadjamuddin.

Selama gelaran Jifolk di alun-alun Temanggung, masyarakat dimanjakan dengan penampilan-penampilan kesenian dari berbagai daerah. Puncaknya di Sabtu (13/7) malam, masyarakat Temanggung disuguhi tarian kontemporer kolaborasi 10 negara ASEAN.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA