Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Wednesday, 23 Rabiul Awwal 1441 / 20 November 2019

Prestasi Remaja Bisa Jadi Pintu Masuk Deteksi Kejiwaan

Senin 15 Jul 2019 12:12 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Depresi. Ilustrasi

Depresi. Ilustrasi

Foto: Sciencealert
Prestasi dan perilaku remaja bisa menjadi pertanda adanya gangguan kejiwaan.

REPUBLIKA.CO.ID, DEPOK -- Menyakiti diri yang bisa berujung kematian atau bunuh diri pada kalangan remaja bukanlah hal yang bisa diremehkan. Apalagi, kasus pada remaja soal menyakiti diri sendiri ini bukan lagi fenomena kecil.

Menurut Dr dr Nova Riyanti Yusuf SpKJ yang melakukan penelitian tentang deteksi dini faktor risiko ide bunuh diri remaja di Sekolah Lanjutan Tingkat Atas/Sederajat di DKI Jakarta, diperlukan kerja sama semua pihak dalam mengatasi fenomena tersebut. Pemerintah, sekolah, dan orang tua adalah pilar yang menentukan.

Nova mengungkapkan, komunikasi dua arah antara orang tua dan guru sangat penting untuk dibangun. Ia menyangkan bahwa masih banyak orang tua maupun guru yang merasa tabu bekerja sama dalan persoalan kejiwaan anak.

"Dari prestasi anak sebetulnya bisa jadi pintu masuk kejiwaan anak, menunjukkan sikap aneh atau tidak, komunikasi sekolah dan orang tua penting untuk membuka keran kedua belah pihak," kata Nova usai sidang terbuka promosi gelar doktor di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Orang tua, menurut Nova, perlu proaktif dan tidak hanya melihat isi rapor anak. Hal lain yang bisa diperhatikan salah satunya ialah bolos sekolah. Hal lain yang tidak tampak di rumah tapi dilakukan di sekolah juga perlu dipantau.

"Pernah saya ke satu sekolah mau undang orang tuanya juga, kata guru nggak usah, orang tua juga nggak mau. Kan nggak bisa seperti itu. Di sekolah juga guru BK nggak bisa asal konseling, harus serius dan sesuai kaidah. Nggak gampang," ungkap dia.

Selain itu, Nova mengatakan, pada akhirnya ayah dan ibu juga perlu mengikuti perkembangan zaman dalam pola asuh. Melihat media sosial anak juga termasuk barometer dialog ortu dengan anak.

Hal terpenting adalah ayah dan ibu mencurahkan perhatian untuk pencegahan gangguan kejiwaan anak. Di samping itu, agar anak remaja nyaman mengadukan masalahnya, Nova mengatakan, hotline pemerintah yang menjamin kerahasiaan identitas bisa dimanfaatkan.

Baca Juga

"Dulu hotline ini ada terakhir 2010, sekarang perlu revitalisasi, karena aplikasi dari Kemenkes juga nggak aktif," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA