Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Rabu, 17 Safar 1441 / 16 Oktober 2019

Karyawan Bergaji Tinggi Justru Jarang Cuti Liburan

Sabtu 13 Jul 2019 06:37 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Christiyaningsih

Berlibur. Ilustrasi

Berlibur. Ilustrasi

Foto: .
Karyawan terlibat dengan email kantor atau panggilan telepon saat liburan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sudah banyak studi yang mengungkap manfaat liburan. Mulai dari kejernihan mental hingga kesehatan fisik, benefit itu bisa didapat dari berlibur.

Tapi kali ini menurut sebuah studi rupanya ada kecenderungan unik soal liburan bagi orang sibuk dan bergaji cukup tinggi. Kebanyakan dari mereka justru lebih jarang liburan.

Menurut laporan State of American Vacation dari American Travel Association 2018, 52 persen karyawan melaporkan mereka memiliki hari libur yang tidak digunakan pada akhir tahun. Bukan tanpa alasan mereka jarang cuti liburan.

Penelitian baru oleh LinkedIn menemukan 59 persen karyawan mengatakan mereka terlibat dengan email kantor atau panggilan telepon saat liburan. Mereka akan memeriksa kesibukan itu setidaknya satu kali sehari.

Kemungkinan liburan berubah menjadi workcation meningkat jika dilihat dari pendapatan atau gaji. LinkedIn melaporkan bahwa mayoritas orang yang berpenghasilan di bawah 25 ribu dolar AS per tahun tidak pernah bekerja saat liburan. Sedangkan 93 persen orang yang berpenghasilan antara 180 ribu dan 200 ribu dolar AS terlibat dengan email kantor atau panggilan telepon setiap hari.

“Banyak yang melakukannya lebih sering untuk pendapatan 200 ribu. Hampir setengah (47 persen) secara aktif terlibat dengan pekerjaan lebih dari lima kali per hari saat berlibur,” kata pakar karier LinkedIn, Blair Decembrele, dalam wawancara dengan Travel and Leisure.

Studi LinkedIn menemukansemakin banyak uang yang karyawan hasilkan, semakin besar kemungkinan mereka akan dihubungi saat liburan. Sebanyak 73 persen profesional yang bekerja melaporkan bahwa mereka dihubungi saat liburan. Sementara 93 persen karyawan yang menghasilkan 200 ribu dolar AS atau lebih mengatakan mereka juga sering dihubungi.

"Teknologi telah membuat orang lebih mudah dihubungi dan mempertahankan batas menjadi semakin sulit," kata Decembrele.

Akan tetapi, dia menyarankan cuti liburan tetap harus dilakukan sesekali bagi orang-orang sibuk dengan gaji tinggi tersebut. Jika tidak meluangkan waktu, boleh jadi karyawan cenderung berujung pada kelelahan.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA