Sabtu, 16 Zulhijjah 1440 / 17 Agustus 2019

Sabtu, 16 Zulhijjah 1440 / 17 Agustus 2019

Faktor Non-Makanan yang Pengaruhi Kesehatan Usus

Sabtu 06 Jul 2019 12:48 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Sistem Pencernaan. Ilustrasi

Sistem Pencernaan. Ilustrasi

Foto: Sciencealert
Waktu tidur dan tingkat stres dapat memengaruhi kesehatan usus

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jenis makanan yang dikonsumsi dapat berdampak pada pencernaan dan cara kerja usus manusia. Sedangkan yang masih menjadi misteri adalah faktor-faktor non-makanan yang bisa memberikan pengaruh sama, bahkan sampai membahayakan kesehatan usus.

Baca Juga

Mengonsumsi serat dan makanan yang difermentasi penting untuk kebaikan usus. Namun, ada hal lain yang bisa memiliki pengaruh lebih besar untuk kesehatan organ pencernaan yang belum disadari oleh banyak orang. Dikutip dari Evening Standard, inilah faktor non-Makanan yang bisa memengaruhi kesehatan usus.

1. Waktu tidur

Penelitian menunjukkan mikroba dalam usus juga bekerja pada ritme sirkadian. Dengan begitu, memprioritaskan waktu tidur sama pentingnya bagi mikroba untuk bekerja dan menyehatkan usus.

Cobalah untuk membuat tidur menjadi lebih lelap agar tidak sering terbangun di tengah-tengahnya. Cara ini akan berguna untuk membantu mikroba bekerja dengan baik tanpa terganggu perubahan waktu dari tidur menjadi bangun.

Untuk membuat tidur berkualitas dan lelap, coba untuk matikan semua perangkat pintar yang tersedia. Mandi, baca buku, atau melakukan meditasi atau pernafasan sebelum tidur akan membantu tidur menjadi lebih mudah dan nyaman.

2. Beristirahat dan mencerna

Ketika makan, fokuslah dengan makanan yang ada di depan. Terdengar mudah namun saat ini berapa banyak orang yang makan dengan kegiatan lain yang mendampinginya. Antara lain makan sambil bermain ponsel, melakukan pekerjaan di depan laptop, atau melakukan hal lainnya.

Banyak orang cenderung tidak menghabiskan banyak waktu di waktu makan dan hanya sekadar mengunyah. Hal ini sering kali malah menimbulkan gejala pencernaan seperti kembung parah dan gas yang berlebihan.

3. Pikiran yang stres

Koneksi usus dan otak adalah sesuatu yang bersifat dua arah. Ketika seseorang stres maka itu akan membuat stres juga mikroba yang ada dalam usus juga. Sama halnya, ketika mikroba ditekan, ini dapat berdampak negatif pada suasana hati dan pola pikir manusia.

Mengelola tingkat stres adalah kunci untuk usus dan otak. Tidak perlu sesuatu yang muluk-muluk, coba untuk hindari stres agar kesehatan pikiran dan pencernaan tetap terjaga.

Coba terapkan beberapa pernapasan perut dalam untuk memulai dan menyelesaikan hari. Cara ini membantu untuk 'menenangkan' saraf Vagus yang menghubungkan dengan usus dan otak. Waktu makan bisa menjadi momen yang tepat untuk menghilangkan stres dan tidak membutuhkan usaha ekstra lainnya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA