Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Kiat Mengelola Keuangan Bagi Pekerja Ojek Daring

Sabtu 06 Jul 2019 07:51 WIB

Rep: Erik Iskandarsjah/ Red: Indira Rezkisari

Pengemudi ojek daring (online) melintas di Dr Sutomo, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Pengemudi ojek daring (online) melintas di Dr Sutomo, Jakarta, Rabu (12/6/2019).

Foto: Antara/Nova Wahyudi
Langkah pertama, pekerja ojek harus melakukan pencatatan arus kas.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — Tidak sedikit orang yang memilih menyambung hidup sebagai pengemudi dalam platform layanan transportasi daring. Meski hanya bersifat freelance atau paruh waktu, tapi jika dikelola dengan baik, maka pendapatan dari pekerjaan sambilan itu pun juga cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Seperti pendapatan dari pekerjaan apapun, tanpa pengelolaan keuangan yang tepat maka penghasilan tidak akan bisa cukup memenuhi kebutuhan masa depan. CO-CEO Jouska Indonesia, Farah Dini Novita, mengatakan salah satu kunci yang dapat diterapkan adalah dengan melakukan pencatatan arus kas.

“Sebelum melakukan perencanaan keuangan yang lebih jauh, para mitra harus secara konsisten melakukan pencatatan arus kas berupa pengeluaran dan pendapatan sehari-hari,” kata Farah usai memberikan pelatihan keuangan kepada para mitra Gojek di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Pencatatan arus kas atau cash flow ini lebih ia tekankan terlebih dahulu karena merupakan salah satu hal yang paling fundamental dalam melakukan pengelolaan keuangan. Hal fundamental ini pun dapat diterapkan baik bagi mitra full timer maupun mitra part timer.

Menurutnya, hal pertama yang harus dilakukan dalam menyusun arus kas adalah dengan melakukan pencatatan pengeluaran bulanan. Baik itu pengeluaran tetap seperti pembayaran cicilan dan listrik maupun pengeluaran tidak tetap dan pengeluaran tidak terduga serta rencana pengeluaran lain yang diperlukan.

Setelah itu, lanjutnya, total pengeluaran itu kemudian dibagi 30 hari. Dengan begitu, maka akan ditemukan angka pengeluaran harian yang kemudian harus ditutup dengan pendapatan harian yang setara atau lebih banyak dari angka pengeluaran harian tersebut.

“Pendapatan mitra kan bisa dibilang pendapatan harian. Sehingga perhitungan total pengeluaranya pun juga harus dibagi dalam 30 hari. Dengan begitu, maka para mitra dapat lebih mudah dalam menetapkan target minimal pendapatan harian yang dapat mencakup rencana pengeluaranya dan tetap dapat menabung,” kata dia.

Jika diilustrasikan, semisal dalam sebulan total pengeluaran dan rencana pengeluaran besarnya adalah Rp 5 juta. Maka dengan asumsi hari kerja 30 hari, mitra tersebut harus mampu memperoleh pendapatan harian sebesar sekitar Rp 170 ribu.

“Dengan melakukan perencanaan ini, maka mitra bisa terhindar dari tekor karena sudah tau pasti berapa pendapatan minimal dan sudah mengetahui pendapatan harian itu akan digunakan untuk apa saja,” ujarnya.

Dalam melakukan penyusunan pengeluaran, ia menekankan agar mitra dapat memprioritaskan pengeluaran-pengeluaran wajib terlebih dahulu. Seperti pembayaran listrik, cicilan dan sekolah. Setelah itu, barulah pengeluaran lain kemudian dianggarkan.

Ia pun sangat menyarankan agar para mitra juga menganggarkan pengeluaran untuk iuran asuransi. Karena, iuran asuransi akan sangat membantu jika terjadi hal yang tidak terduga apalagi pendapatan mitra adalah pendapatan harian. Lagi pula, ia menilai iuran asuransi jika dianggarkan dalam pengeluaran harian jumlahnya tidak terlalu memberatkan.

Jouska Indonesia merupakan sebuah lembaga konsultan keuangan independen yang ditunjuk oleh Gojek untuk memberikan pelatihan pengeloaan keuangan bagi para mitra. Selain memberikan pelatihan pembuatan arus kas, Jouska juga meberikan edukasi terkait produk asuransi dan investasi demi meningkatkan literasi keuangan para mitra.

Terkait komposisi mitra Gojek yang bekerja secara partime, Head of Communications Transport Marketing Gojek, Pingkan Irwin mengatakan, hingga saat ini Gojek belum memiliki angka pasti soal berapa banyak mitra yang bekerja sambilan dan berapa banyak yang menjadi mitra sepanjang hari. Namun, ia mengakui bahwa memang ada beberapa mitra yang memilih menjadi mitra untuk mengisi waktu luangnya dan tidak menjadikan Gojek sebagai pekerjaan utama.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA