Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Psikolog Paparkan Bagaimana Skizofrenia Bisa Tercetus

Rabu 03 Jul 2019 11:36 WIB

Rep: Muhammad Riza Wahyu Pratama/ Red: Indira Rezkisari

Penderita skizofrenia (ilustrasi).

Penderita skizofrenia (ilustrasi).

Foto: AP
Pengidap skizofrenia harus menjalani pengobatan dan psikoterapi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kabar seorang wanita yang masuk masjid Al Munawaroh Sentul menggunakan sandal dan membawa anjingnya menjadi viral. Setelah dilakukan pemeriksaan di Rumah Sakit Polri Kramat Jati, Jakarta Timur, Selasa (2/7), disimpulkan, wanita tersebut ternyata mengidap skizofrenia tipe paranoid.

Psikolog Efnie Indrianie mengatakan, pelaku tersebut bisa saja mengalami skizofrenia. Pasalnya, ada tanda-tanda yang mirip dengan pelaku. Salah satunya adalah berhalusinasi, ia seolah-olah mendengar ataupun melihat sesuatu padahal obyeknya tidak ada.

"Selain itu bisa pula gelisah, kadang disertai gejala depresi, ataupun respons emosi yang tidak sesuai," kata Efnie, Rabu (3/7).

Ia menambahkan, sebenarnya ada banyak tanda-tanda skizofrenia. Pengidap skizofrenia bisa mengalami delusi. Semacam meyakini sesuatu, padahal sesuatu tersebut tidak terjadi. Ia menyontohkan, hal itu seperti meyakini bahwa dirinya raja, padahal ia bukan raja.

"Atau flight of idea, yakni pembicaraan yang melompat dari satu topik ke topik yang lainnya. Bisa pula inkoheren, yakni mengucapkan kata-kata yang tidak dapat dimengerti," tutur Efnie.

Kemudian, ia menerangkan, penyebab penyakit tersebut bisa dikarenakan beberapa faktor. Mulai dari faktor genetik, kelainan struktur dan zat kimia otak, serta adanya situasi stres yang sangat berat.

Terkait dengan penyembuhan penderita skizofrenia. Efnie menuturkan, penderita harus mengonsumsi obat-obat antipsikotik yang diresepkan oleh psikiater. Termasuk pula, penderita memerlukan pelatihan mental (psikoterapi) oleh psikolog.

Di sisi lain, ketika disinggung soal potensi tekanan masyarakat yang dapat mengganggu proses pengobatan penderita. Efnie mengatakan, hal itu tidak terlalu berdampak signifikan.

"Biasanya orang skizofrenia hidup dengan dunianya sendiri. Sehingga apapun yang dikatakan oleh lingkungan tidak terlalu berpengaruh baginya," ujar perempuan yang juga merupakan dosen Universitas Kristen Maranatha tersebut.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA