Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Mengenal Skizofrenia yang Diderita Wanita Bawa Anjing

Selasa 02 Jul 2019 01:32 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Video viral wanita disebut bawa anjing ke masjid.

Video viral wanita disebut bawa anjing ke masjid.

Foto: Youtube
Skizofrenia paranoid yang diderita wanita bawa anjing memengaruhi cara berpikir

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Skizofrenia paranoid atau skizofrenia dengan paranoia adalah contoh paling umum dari penyakit mental ini. Skizofrenia adalah sejenis psikosis, yang berarti pikiran seseorang tidak setuju dengan kenyataan. 

Baca Juga

Kondisi ini pula yang terjadi pada SM (52 tahun) yang sempat terekam video membawa anjing ke dalam masjid di daerah Sentul, Bogor dan menjadi viral.  Kepala Rumah Sakit Bhayangkara Polri Tingkat I  Brigjen Musyafak mengatakan, perempuan itu diketahui mengidap skizofrenia tipe paranoid. 

Sebelumnya Kapolres Bogor Ajun Komisaris Besar Andi M Dicky menyatakan kepolisian mengalami kesulitan meminta keterangan dari SM (52 tahun) yang masuk ke Masjid al-Munawaroh sembari membawa anjing. Dicky mengatakan, SM mengalami gangguan kejiwaan. 

“SM ketika diperiksa ternyata ada gangguan kejiwaan di mana ia sulit koordinasi dan sering teriak, serta tidak memberikan keterangan yang tidak konsisten,” ujar dia kepada Republika, Kamis (1/7).

Skizofrenia tipe paranoid ini memengaruhi cara berpikir dan berperilaku dan dapat muncul dengan cara serta waktu yang berbeda, bahkan pada orang yang sama. Penyakit ini biasanya dimulai pada akhir masa remaja atau dewasa muda.

Dikutip dari Webmd.com, orang dengan skizofrenia paranoid curiga terhadap orang lain. Hal ini dapat menyulitkan mereka untuk memegang pekerjaan, menjalankan tugas, memiliki persahabatan, dan bahkan pergi ke dokter. Meskipun ini adalah penyakit seumur hidup, penderitanya dapat minum obat dan mencari bantuan untuk menghentikan gejala atau membuatnya lebih mudah untuk hidup.

Skizofrenia paranoid, menurut profesor klinis psikiatri di Fakultas Kedokteran Icahn di Mount Sinai di New York City Joseph F. Goldberg, juga disebut delusi penganiayaan, mencerminkan ketakutan dan kecemasan yang mendalam bersama dengan hilangnya kemampuan untuk mengatakan apa yang nyata dan apa yang tidak nyata. Keyakinan yang tidak nyata ini bisa mendatangkan masalah dalam kehidupan, keluarga, pekerjaan, dan percintaan.

Orang dengan skizofrenia biasanya tidak kejam. Namun terkadang, delusi paranoid dapat membuat mereka merasa terancam dan marah. Sering kali penderita mengalami halusinasi terkait, di mana indra tubuh tidak berfungsi dengan baik. 

Goldberg mencontohkan, saat penderita mungkin mendengar suara-suara yang mengolok-olok atau menghina. Mereka mungkin juga mendengar perintah atau permintaan untuk melakukan hal-hal berbahaya. 

Bagi penderita masalah tersebut, dokter biasanya meresepkan obat antipsikotik untuk membuat delusi hilang. Mungkin perlu beberapa minggu untuk obat ini bekerja sepenuhnya, dan perlu bantuan konseling.

 Konseling ini berupa terapi perilaku kognitif yang dapat mengajarkan mengelola gejala yang tidak hilang, bahkan ketika meminum obat. penderita akan belajar menguji apakah mengalami delusi dan bagaimana mengabaikan suara di dalam kepala.

Selain itu, dukungan positif dan dukungan dari keluarga dan teman juga sangat membantu. Hal ini berkaitana dengan beberapa obat antipsikotik dapat membuat penderita menambah berat badan.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA