Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Kim Kardashian Dinilai tak Hargai Budaya Kimono Jepang

Kamis 27 Jun 2019 08:47 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Indira Rezkisari

Kim Kardashian.

Kim Kardashian.

Foto: EPA
Kimono Jepang merupakan pakaian tradisional dengan nilai budaya tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Bukan Kim Kardashian bila tak sensasional. Kali ini, bintang model internasional itu membuat marah masyarakat Jepang karena meluncurkan merek pakaian baru bertajuk "Kimono Intimates".

Baca Juga

Dilansir dari BBC, Kamis (27/6), label terbaru pakaiannya itu memiliki kesan inklusif, menjunjung bentuk dan lekuk tubuh wanita. Kesan ini membuat marah masyarakat Jepang lantaran pakaian kreasi Kim itu tak menghormati pakaian tradisional Kimono.

Kimono adalah jubah longgar lengan panjang yang biasanya diikat dengan ikat pinggang, berasal dari abad ke 15 Jepang. Oleh karena dianggap sebagai pakaian nasional Jepang, maka saat ini sebagian besar orang Jepang memakai kimono pada acara-acara khusus.

"Kami memakai kimono untuk merayakan kesehatan, pertumbuhan anak-anak, pertunangan, perkawinan, kelulusan, pada saat pemakaman. Ini adalah pakaian perayaan dan diturunkan dalam keluarga dari generasi ke generasi," kata seorang wanita Jepang, Yuka Ohishi.

Dia melanjutkan, luncuran pakaian shapewear ini bahkan tak menyerupai kimono. Sayangnya, menurutnya, Kim hanya memilih kata yang mengandung kata "Kim" di dalamnya. "Tidak ada rasa hormat terhadap apa arti sebenarnya pakaian dalam budaya kita," kata Ohishi.

Banyak orang yang mempermasalahkan fakta bahwa merek yang ada tersebut sangat penting secara budaya dalam budaya Jepang. Sementara, yang lain kesal karena pakaian tradisional sekarang memiliki nama yang sama dengan merek pakaian intim.

Protes tertuai dalam unggahan-unggahan di media sosial Twitter dengan menggunakan  tagar #KimOhNo. Lalu, ada juga yang mengkhawatirkan orang-orang akan mengasosiasikan kimono dengan Kardashian West, daripada Jepang.

"Saya pikir Kim memiliki begitu banyak pengaruh pada budaya pop, saya khawatir akan ada orang yang hanya tahu kata kimono sebagai mereknya. Saya membayangkan itu akan berdampak pada hasil pencarian, tagar, jika merek ini menjadi sekuat usaha lainnya," ungkap dia.

Merek Kardashian West merupakan merek dagang Kimono yang diluncurkan pada 2018 lalu di AS. Dia juga telah mengajukan merek dagang untuk "Kimono Body", "Kimono Intimates", dan "Kimono World".

Pada merek dagang itu, Kim merancang pakaian dalam dengan garis-garis halus di bawah pakaian. Koleksinya tersedia dalam beberapa warna berbeda.

"Berkali-kali saya tidak dapat menemukan warna shapeware yang dicampur dengan warna kulit saya sehingga kami membutuhkan solusi untuk semua ini," tulis pihak manajemen Kardashian West di Twitter.

Label terbaru dari Kardashian West menggembar-gemborkan diri sendiri sebagai ukuran dan keragaman merek inklusif. Mereka membawa ukuran dari XXS ke 4XL yang tersedia dalam sembilan warna.

Tetapi seorang ahli kimono, Prof Sheila Cliffe dari Universitas Wanita Jumonji mengatakan, hal itu sangat ironis. Label Kimono Kim dapat mengidentifikasi dengan pakaian yang merupakan kebalikan dari membentuk lekukan tubuh.

Estetika kimono, kata dia, adalah anggun, elegan, dan lembut. Kimono membungkus pemakainya sehingga mereka tidak terpapar dari luar.

 

"Jika aku membuat bra dan menyebutnya sari, beberapa orang akan sangat kesal. Itu menunjukkan rasa tidak hormat yang sangat.. (tak baik). Kimono adalah ekspresi identitas Jepang. Kata itu bukan milik Kim Kardashian," terangnya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA