Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Studi: Jarang Berlibur Bisa Picu Penyakit Jantung

Kamis 27 Jun 2019 08:05 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Christiyaningsih

Liburan di pantai (Ilustrasi)

Liburan di pantai (Ilustrasi)

Foto: Womanitely
Liburan memicu penurunan risiko gejala metabolisme atau sindrom metabolik

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Sebuah penelitian dari Syracuse University di Amerika Serikat (AS) mengungkap bahwa berlibur memberi banyak manfaat bagi tubuh. Salah satunya dapat menurunkan risiko penyakit jantung. Itu karena liburan memicu penurunan risiko gejala metabolisme atau sindrom metabolik.

Sindrom metabolik adalah kumpulan faktor risiko penyakit jantung atau kardiovaskular. Jadi jika Anda jarang berlibur, risiko terkena penyakit kardiovaskular lebih tinggi.

“Kami temukan bahwa orang yang lebih sering berlibur dalam 12 bulan terakhir memiliki risiko lebih rendah untuk sindrom metabolik," kata asisten profesor Universitas Syracuse Bryce Hruska dilansir Indian Expres, Kamis (27/6).

Penelitian ini semakin menguatkan bahwa berlibur sangat penting bagi semua orang baik pekerja, pelajar, dan ibu rumah tangga. Berlibur tidak mesti diartikan dengan harus pergi ke luar negeri, pergi ke pantai yang jauh, atau destinasi mahal. Sebab esensi dari liburan yaitu membuat perasaan seseorang menjadi senang dan nyaman.

Untuk itu liburan juga bisa dilakukan dengan sederhana. Misalnya memanfaatkan waktu libur akhir pekan dengan menonton atraksi atau bioskop bersama keluarga, berjalan-jalan di taman, atau bahkan staycation di vila terdekat.

“Berlibur ini penting karena kita benar-benar melihat pengurangan risiko penyakit kardiovaskular dari orang yang sering berlibur,” kata Hruska.

Meski begitu, para peneliti masih mempelajari liburan apa yang paling bermanfaat bagi kesehatan jantung. Namun yang jelas dan terpenting adalah setiap orang bisa menggunakan waktu liburan yang tersedia dengan baik. Karena berdasar penelitiannya, hampir 40 persen karyawan yang bekerja full time tidak memanfaatkan semua waktu liburan yang tersedia bagi mereka.

"Penelitian kami menunjukkan bahwa jika orang menggunakan waktu libur yang sudah tersedia bagi mereka, itu akan menjadi manfaat kesehatan yang nyata," kata dia.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA