Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Friday, 9 Rabiul Akhir 1441 / 06 December 2019

Dampak Negatif Berenang di Laut

Rabu 26 Jun 2019 03:17 WIB

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Reiny Dwinanda

Wisatawan berenang di Pantai Jikumerasa di Pulau Buru, Maluku, Senin (15/4/2019).

Wisatawan berenang di Pantai Jikumerasa di Pulau Buru, Maluku, Senin (15/4/2019).

Foto: Antara/Hafidz Mubarak A
Berenang di laut dapat mengubah komposisi bakteri yang melekat di tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, KALIFORNIA — Air di lautan memiliki kandungan yang beragam, termasuk bakteri. California State University pun melakukan sebuah penelitian terkait dampak berenang di laut bagi tubuh.

Dilansir Health 24 pada Selasa (25/6), riset itu mendapati bahwa berenang di laut dapat meningkatkan potensi terjadinya infeksi. Hal itu disimpulkan lewat riset yang melibatkan sembilan partisipan.

Baca Juga

Peneliti melakukan pemindaian bakteri pada kaki partisipan sesaat sebelum berenang di laut dan sesaat setelah mereka berenang di laut selama sepuluh menit. Setelah itu, pemindaian pun juga dilakukan kembali setelah enam jam dan 24 jam setelah mereka berenang.

Sebelum berenang, setiap partisipan memiliki kandungan yang berbeda-beda. Setelah berenang, hampir semua partisipan memiliki kandungan bakteri yang seragam.

Mayoritas, sesaat setelah berenang, mereka terpapar bakteri escherichia. Namun, setelah enam jam dan 24 jam, kondisi bakteri pada kulit mereka telah kembali seperti saat sebelum berenang.

Ketua tim peneliti, Marisa Chattman Nielsen mengatakan, data penelitian ini menunjukan bahwa paparan air laut dapat mengubah keragaman dan komposisi microbiome, populasi mikroba di kulit manusia.

“Saat berenang, bakteri normal yang menghuni tubuh tersapu, sementara bakteri laut terendap di kulit," ujar Nielsen.

Menurut Nielsen, studi ini sekaligus mengonfirmasi sejumlah riset sebelumnya yang menyatakan bahwa berenang di laut dapat mengakibatkan infeksi seperti infeksi kulit, telinga, penyakit pencernaan, dan pernapasan. Salah satu hal paling menarik dalam penelitian ini adalah dengan ditemukannya bakteri vibrio.

Nielsen mengatakan, bakteri ini hanya diidentifikasi pada tingkat genus dan terdeteksi pada setiap peserta setelah berenang di lautan. Genus vibrio termasuk dalam bakteri yang menyebabkan kolera.

Dalam penelitian itu, ditemukan bahwa dalam enam jam setelah berenang, vibrio masih ada di tubuh sebagian besar partisipan. Tetapi, dalam 24 jam setelah berenang, hanya satu peserta yang masih terdapat vibrio dalam kulitnya.

"Walaupun banyak vibrio tidak bersifat patogen, fakta dalam riset ini menunjukkan bahwa spesies vibrio yang patogen berpotensi bertahan pada kulit setelah berenang," kata Nielsen.

Di satu sisi, fraksi spesies vibrio yang terdeteksi pada kulit perenang ditemukan sepuluh kali lebih besar daripada fraksi di air laut. Hal ini menunjukkan bahwa vibrio memiliki afinitas khusus untuk melekat pada kulit manusia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA