Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Senin, 24 Muharram 1441 / 23 September 2019

Neofobia Makanan Picu Sejumlah Persoalan Kesehatan

Jumat 21 Jun 2019 14:29 WIB

Rep: Eric Iskandarsjah Z/ Red: Reiny Dwinanda

Anak pilih-pilih makanan (ilustrasi).

Anak pilih-pilih makanan (ilustrasi).

Foto: fit-geek.com
Neofobia pada makanan merupakan perilaku yang diturunkan.

REPUBLIKA.CO.ID, HELSINKI — Neofobia pada makanan merupakan sifat seseorang yang hanya mau memakan makanan yang itu-itu saja dan tidak ingin mencoba makanan baru lainya atau makanan yang dirasa murang familiar. Sebuah riset pun mencoba menggali dampak dari perilaku tersebut dan mendapati bahwa neofobia terbukti memicu sejumlah soal, terutama terkait kesehatan.

Baca Juga

Dilansir Science Daily, riset yang dilakukan di Finlandia itu yang melibatkan Finnish National Institute for Health and Welfare, University of Helsinki, dan University of Tartu di Estonia. Studi itu fokus untuk meneliti dampak neofobia terhadap kualitas makanan, resiko, dan penyakit yang ditimbulkan.

Studi terssebut dilakukan selama tujuh tahun dan melibatkan partisipan berusia 25 hingga 74 tahun. Dalam studi itu ditemukan bahwa neofobia ternyata merupakan sifat yang turun-temurun.

Hal itu diuji dengan kuesioner skala neofobia makanan (FNS) dan mendapatkan hasil bahwa 78 persen neofobia kemungkinan didapat secara turun-temurun. Disebutkan juga bahwa beberapa ciri sifat neofobia terlihat dari sifatnya yang rewel dan sangat pilih-pilih makanan.

Dari riset itu, perilaku tersebut pun kemudian berdampak terhadap kualitas makanan dan kesehatan. Sifat itu berpengaruh terhadap asupan serat, protein, dan lemak tak jenuh dan garam dalam makanan dari seseorang yang mengalami neofobia.

Hal itu pun kemudian juga menggambarkan korelasi antara neofobia dengan profil asam lemak yang merugikan dan tingkat inflamasi dalam darah. Selain itu, terkonfirmasi juga bahwa neofobia dapat meningkatkan potensi timbulnya penyakit kardiovaskular dan diabetes tipe 2.

Peneliti dari Finnish National Institute for Health and Welfare, Professor Markus Perola mengatakan, penelitian ini menegaskan bahwa kunci dalam menjaga kesehatan adalah dengan diet yang serbaguna dan sehat. “Dengan mengetahui dampak neofobia, maka penelitian ini dapat bermanfaat dam mencegah penyakit sejak dini,” kata Perola.

Oleh karena itu, Perola pun berharap, pendidikan anak usia dini dan bimbingan gaya hidup di masa dewasa dapat memberikan dukungan dalam pengembangan asupan makanan yang beragam.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA