Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tuesday, 19 Zulhijjah 1440 / 20 August 2019

Tidur dengan Lampu Menyala Pengaruhi Berat Badan Wanita

Rabu 12 Jun 2019 22:00 WIB

Rep: Farah Noersativa/ Red: Christiyaningsih

Tidur (Ilustrasi)

Tidur (Ilustrasi)

Foto: Foxnews
Studi menemukan kaitan antara lampu yang menyala saat tidur dan berat badan

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi menemukan adanya kaitan antara lampu yang menyala saat tidur dan berat badan wanita. Studi itu menyebut wanita yang tidur dengan televisi atau menyalakan lampu di kamar tidur kemungkinan cenderung bertambah berat badannya.

Baca Juga

Dilansir Asia One pada Rabu (11/6), studi itu diterbitkan dalam Journal of American Medical Association (JAMA) Penyakit Dalam. Para peneliti mengandalkan survei terhadap hampir 44 ribu wanita di Amerika Serikat (AS) dengan tindak lanjut lima tahun kemudian.

Para wanita diklasifikasikan berdasarkan tingkat keterpaparan mereka terhadap cahaya buatan di malam hari. Cahaya-cahaya tersebut berasal dari berbagai sumber termasuk dari lampu malam kecil. Tak ketinggalan cahaya yang menyinari dari jalan ke televisi atau lampu kamar juga ikut diteliti.

Salah satu temuan utama dari penelitian itu adalah wanita yang tidur dengan televisi atau lampu menyala di ruangan, 17 persen lebih mungkin untuk menambah berat badan lima kilogram atau lebih selama masa studi. Korelasi tetap kuat bahkan setelah mengendalikan faktor-faktor seperti durasi tidur, diet, dan aktivitas fisik.

Meskipun demikian, penulis mengingatkan para peneliti tidak dapat secara pasti menarik hubungan sebab akibat. Mereka mengatakan temuan itu menambah bukti yang mendukung tidur di ruangan gelap.

"Strategi kesehatan masyarakat untuk mengurangi obesitas mungkin mempertimbangkan intervensi yang bertujuan mengurangi cahaya saat tidur," tulis peneliti dari Institut Nasional Ilmu Kesehatan Lingkungan di North Carolina, Dale Sandler, dan rekan penulis Yong-Moon Mark Park.

Mereka menjelaskan cahaya mungkin menekan produksi melatonin sehingga mengganggu ritme sirkadian dan pola makan. Kemungkinan lain adalah cahaya berperan sebagai pemicu stres kronis yang mengganggu pelepasan hormon stres seperti glukokortikoid.

Hormon itu memiliki peran dalam mengatur asupan makanan. Kemungkinan lain adalah adanya mekanisme lain di tempat kerja yang memengaruhi metabolisme secara langsung.

Para penulis mengakui beberapa keterbatasan termasuk bahwa data itu dilaporkan sendiri. Mereka juga tidak tahu seberapa kuat berbagai sumber cahaya.

Paparan cahaya tinggi juga dapat mencerminkan konstelasi ukuran-ukuran kerugian sosial ekonomi dan perilaku gaya hidup yang tidak sehat. “Semuanya dapat berkontribusi pada penambahan berat badan dan obesitas,” kata para peneliti.

Seorang profesor chronobiology di University of Surrey di Inggris, Malcolm von Schantz, turut mengomentari makalah itu. "Apa yang baru dalam makalah adalah ini merupakan penelitian longitudinal yang membandingkan berat individu yang sama pada awal dan lebih dari lima tahun kemudian,” tutur dia.

Temuan baru ini tidak akan mengubah saran untuk menjaga kebersihan tidur yang baik. Temuan ini malah membuat orang menghindari gangguan cahaya dan elektronik di kamar tidur.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA