Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

WHO: Penduduk Daerah Konflik Alami Gangguan Mental

Rabu 12 Jun 2019 11:53 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Indira Rezkisari

Seorang anak dan pria memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di  Douma, Ghouta Timur, Damaskus, Suriah. Foto diambil pada 25 Februari 2018..

Seorang anak dan pria memperoleh penanganan medis setelah terpapar gas beracun di Douma, Ghouta Timur, Damaskus, Suriah. Foto diambil pada 25 Februari 2018..

Foto: Bassam Khabieh/Reuters
Satu dari 14 orang di daerah konflik alami gangguan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyatakan, satu dari lima orang yang tinggal di zona perang mengalami depresi, kegelisahan, stres, serta gangguan bipolar atau skizofrenia. Temuan tersebut menyoroti dampak jangka panjang dari krisis yang disebabkan oleh perang di negara-negara seperti Afghanistan, Irak, Sudan Selatan, Suriah dan Yaman, di mana sekitar satu dari 14 orang mengalami penyakit mental.

"Mengingat sejumlah besar orang yang membutuhkan dan keharusan kemanusiaan untuk mengurangi penderitaan, ada kebutuhan mendesak untuk menerapkan intervensi kesehatan mental yang dapat diukur untuk mengatasi beban ini," kata tim peneliti.

Spesialis kesehatan mental di WHO, Mark van Ommeren mengatakan, investasi kesehatan mental sangat dibutuhkan. Dengan demikian, dukungan mental dan psikososial dapat diberikan kepada semua orang yang membutuhkan terutama di daerah konflik.

Pada 2016, jumlah konflik bersenjata yang sedang berlangsung mencapai rekor tertinggi sepanjang masa yaitu 53 di 37 negara dan 12 persen orang di dunia hidup di zona perang aktif. Sejak Perang Dunia Kedua, hampir 69 juta orang di seluruh dunia telah dipaksa untuk melarikan diri dari perang dan kekerasan.

Studi kesehatan WHO mengenai kesehatan mental di daerah konflik diterbitkan dalam jurnal medis The Lancet. Studi tersebut dilakukan oleh tim peneliti dari WHO, Universitas Queensland Australia, dan Institut Metrik dan Evaluasi Kesehatan di Universitas Washington dan Universitas Harvard di Amerika Serikat (AS). Studi itu menganalisis penelitian dari 129 studi dan data dari 39 negara yang diterbitkan antara 1980 dan Agustus 2017.

Daerah yang mengalami konflik dalam 10 tahun terakhir dimasukkan dan penyakit mental dikategorikan ringan, sedang, atau berat. Sementara, bencana alam dan darurat kesehatan masyarakat, seperti Ebola, tidak dimasukkan.

Secara keseluruhan di zona perang, prevalensi rata-rata tertinggi untuk kondisi kesehatan mental ringan, yaitu 13 persen. Sekitar 4 persen dari orang yang hidup di tengah konflik bersenjata memiliki penyakit kesehatan mental sedang, dan untuk kondisi parah prevalensinya 5 persen.

Studi ini juga menemukan bahwa tingkat depresi dan kecemasan dalam situasi konflik tampaknya meningkat dengan bertambahnya usia, dan depresi lebih sering terjadi pada wanita daripada pria. Studi ini didanai oleh WHO, Departemen Kesehatan Queensland dan Yayasan Bill & Melinda Gates, dikutip dari Reuters.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA