Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Rabu, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 Desember 2019

Konsumsi Makanan Ultra Olahan Picu Kematian Dini

Rabu 05 Jun 2019 02:01 WIB

Rep: Nugroho Habibi/ Red: Gita Amanda

Hidangan burger.

Hidangan burger.

Foto: EPA
Lebih dari 4 porsi makanan ultra olahan per hari tingkatkan 62 persen risiko kematian

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Makanan ultra olahan menjadi makanan yang cukup digemari masyarakat karena dengan mudah diperoleh di berbagai tempat. Namun, mengkonsumsi makanan ultra olahan secara terus-menerus beresiko meningkatkan penyakit jantung hingga kematian dini.

Makanan ultra olahan merupakan makanan yang diproduksi melalui berbagai proses industri misalnya burger, nugget ayam, es krim, mi instan dan makanan siap saji. Makanan tersebut biasanya mengandung kadar lemak, kadar gula dan kadar garam yang tinggi.

Menurut sebuah penelitian yang dilakukan oleh University of Navarra di Spanyol, menyebut orang yang mengkonsumsi ultra olahan dapat meningkatkan resiko penyakit jantung dan kematian dini. Penelitian itu, mengambil data sekitar 20 ribu orang dewasa yang mengkonsumsi makanan ultra olahan selama 10 tahun.

Peneliti menemukan, lebih dari empat porsi makanan ultra olahan per hari dapat meningkatkan resiko kematian dini sebanyak 62 persen dibandingkan dengan yang mengkonsumsi kurang dari dua porsi. Penelitian itu menyebut, setiap tambahan porsi yang dimakan, beresiko meningkatkan kematian sebesar 18 persen.

"Meningkatkan pola makan berdasarkan kepatuhan terhadap minimnya makanan olahan telah terbukti melindungi penyakit kronis dan semua penyebab kematian," kata peneliti Universitas Navarra, dilansir dari Mirror, Kamis (30/5),

Peneliti mengatakan, pemerintah seharusnya turut membahas kebijaksanaan terkait pembatasan makanan ultra olahan. "Mempromosikan makanan segar atau minim olahan harus dianggap sebagai bagian dari kebijakan kesehatan yang penting untuk meningkatkan kesehatan masyarakat global," ujar peneliti itu.

Sementara, Senior Ahli Diet dari British Heart Foundation, Victoria Taylor, mengatakan peneliti seharusnya mengklasifikasikan jenis makanan ultra-olahan. Sehingga, kata Taylor, resiko kematian dapat diketahui dengan jelas tanpa melibatkan faktor lain dalam kehidupan seseorang.

"Sebelum kami mempertimbangkan untuk melakukan perubahan pada saran atau kebijakan, penting untuk memahami ini (ultra olahan) secara menyeluruh," ungkap Taylor.

Taylor menyebut, telah merekomendasikan untuk mengadopsi diet gaya Mediterania dan meminimalisir makanan yang diproses. Selain itu, pihaknya juga menyarankan untuk memperbanyak makan makanan seperti buah, sayuran, ikan, kacang-kacangan dan biji-bijian, kacang-kacangan, dan biji-bijian.

"Ini, bersama dengan berolahraga secara teratur dan tidak merokok, telah terbukti bermanfaat untuk menurunkan risiko penyakit jantung," tuturnya.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA