Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Sunday, 21 Safar 1441 / 20 October 2019

Balita Alami Malanutrisi Akibat Pola Makan Diet Vegan

Jumat 10 May 2019 08:22 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Anak malanutrisi (ilustrasi).

Anak malanutrisi (ilustrasi).

Foto: guardian.co.uk
Balita mengalami malanutrisi seteag orang tua memberikannya diet vegan

REPUBLIKA.CO.ID, SYDNEY -- Seorang balita perempuan yang diberi diet vegan oleh orang tuanya mengalami malanutrisi saat menginjak usia 19 bulan. Kondisi ini membuatnya tidak memiliki gigi dan postur tubuh tampak seperti baru berusia tiga bulan.

Temuan tersebut berangkat dari kasus yang terekspos di pengadilan Sydney, Australia.  Sepasang orang tua balita yang tidak disebutkan namanya karena alasan hukum, telah mengaku bersalah karena tidak menyediakan makanan yang seimbang untuk anaknya. Akibat penerapan diet vegan, anak mereka mengalami malanutrisi serius.

Pasangan dari pinggiran timur Sidney ini pun belum memvaksinasi buah hatinya. Mereka menghadapi sidang di Pengadilan Distrik Downing pada hari Kamis (9/5). Dokumen pengadilan mengungkap balita itu hanya diberi makan gandum, kentang, beras, tahu, roti, selai kacang, dan susu beras. Segenggam buah atau dua anggur tanpa biji adalah camilannya.

Dikutip dari Sidney Morning Herald, balita perempuan itu dibawa ke rumah sakit setelah mengalami kejang pada Maret 2018. Dia diberi makanan nabati yang ketat sehingga membuatnya kekurangan gizi dan menderita penyakit tulang yang sebenarnya bisa dicegah.

Tinggi dan berat badan balita adalah 4,89 kilogram. Bobot itu sangat rendah untuk anak seusianya saat dia dirawat di rumah sakit. Dia bahkan belum pernah bertemu dokter setelah hari kelahirannya.

Mantan pengasuh anak itu berkata ketika pertama kali bertemu, anak itu tidak bisa duduk, berguling, atau memegang botolnya sendiri meskipun sudah hampir dua tahun. "Saya ingat berpikir betapa mengerikannya ini (untuknya)," kata sang pengasuh dalam sebuah pernyataan yang dibacakan di pengadilan.

Akibat ulah orang tuanya, balita itu berbaring di ranjang rumah sakit dengan tabung menutupi tubuh mungilnya. Dia pun terlihat sangat berbeda dengan anak-anak seusianya. "Ketika dia bertemu orang baru secara sosial, mereka selalu menanyakan usianya dan terkejut betapa kecilnya dia," kata pengasuh itu.

Balita tersebut sekarang memasuki prasekolah dengan usia hampir tiga tahun. Secara teknis, dia mengalami obesitas karena tinggi badannya yang seperti berusia satu tahun sedangkan berat tubuh terus bertambah. "Sepertinya tubuhnya menyimpan kalori kalau-kalau dia membutuhkannya di masa depan," kata pengasuh.

Setelah meninggalkan rumah sakit, balita itu harus berkonsultasi setiap hari dengan seorang profesional medis. Dia juga perlu melakukan tes darah setidaknya sebulan sekali. "Seiring bertambahnya usia dia menjadi lebih tertekan oleh (tes darah). Dia sekarang mulai menjerit," ujar pengasuh.

Pengadilan pun mendengar bukti dari psikiater yang tidak setuju ibunya menderita depresi pascakelahiran pada saat diabaikan. Sedangkan pengacara pembela Frank Coyne mengatakan, kliennya sibuk dengan pekerjaan dan mengira balita itu sehat. Rekannya itu adalah pengasuh utama.

"Dia memutuskan diet rumah tangga, dia tidak dan bukan vegetarian atau vegan," kata Coyne.

Tapi, jaksa mengecam alasan itu. Jaksa menunjukkan ayah balita telah berbohong kepada staf medis tentang perkembangan anaknya ketika dia dibawa ke rumah sakit. Hakim Sarah Huggett juga membalas anggapan balita itu tampak sehat-sehat saja.

"Dia tidak berjalan atau berbicara. Ada masa si ayah tidak melakukan apa-apa, dia juga tidak membawa anak itu ke dokter," ujar hakim. Kelalaian pengasuhan tersebut mendapatkan tuntutan maksimal lima tahun penjara.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA