Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Kamis, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 Desember 2019

Harga Tiket Pesawat Mahal, Biro Wisata Putar Otak

Sabtu 11 Mei 2019 09:12 WIB

Red: Teguh Firmansyah

Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin (6/5).

Penumpang keluar dari area bandara seusai mendarat dengan pesawat komersial Citilink saat penerbangan perdana di Bandara Yogyakarta International Airport (YIA), Kulonprogo, DI Yogyakarta, Senin (6/5).

Foto: Antara/Andreas Fitri Atmoko
Pemerintah diminta bertindak nyata untuk menurunkan harga tiket pesawat dan bagasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pegiat pariwisata memprotes harga tiket pesawat yang tak kunjung turun. Mahalnya tiket pesawat berdampak kepada industri pariwisata lokal.

"Pemerintah harus bertindak konkrit menurunkan harga tiket pesawat ini," ujar Sulistyo Purnomo Pambudi, pendiri Smart Tour & Travel ketika berbincang dengan Republika.co.id, Jumat (10/5) malam.

Menurut Tio, sapaan akrabnya, para pelancong kini harus berpikir dua kali, untuk mengunjungi lokasi-lokasi wisata di daerah. Mereka menimbang biaya perjalanan yang naik hingga dua kali lipat dibanding sebelumnya. Bahkan ongkos ke sejumlah daerah lebih mahal daripada biaya ke Singapura. "Ini tentu bertentangan dengan visi pemerintah yang ingin dorong pariwisata lokal," ujarnya.

Tio mengaku, biro-biro wisata kini harus memutar otak agar bisa bertahan. Salah satunya yakni dengan memangkas jumlah hari perjalanan maupun spot kunjungan untuk mendapat harga berimbangan.  "Biar harganya tetap masuk, biasanya yang perjalanan tiga hari menjadi dua hari," katanya.

Baca Juga

photo
Pendiri Smart Tour and Travel, Sulistiyo Purnomo Pambudi.

Adapun untuk klien-klien perusahaan institusi, biasanya ia menawarkan dengan harga sama, tapi jumlah yang ikut lebih sedikit. "Misal kalau sebelumnya ke Manado bisa 20 orang dengan harga sama, kini dipangkas jumlahnya."

Selain itu, ia juga berharap agar bagasi digratiskan kembali. Pasalnya, biaya bagasi berbayar berpengaruh pada industri kerajinan maupun makanan di daerah. Pelancong yang berkunjung ke daerah akan menimbang-nimbang untuk membawa oleh-oleh atau buah tangan dalam jumlah besar. "Kalau bisa digratiskan lagilah," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan menyebut tarif batas atas tiket pesawat akan turun sebanyak 15 persen. Luhut dalam kegiatan Afternoon Tea bersama wartawan di Jakarta, Rabu (8/5) mengatakan ia telah mendapatkan laporan mengenai rencana itu dan telah disetujui semua pihak termasuk maskapai.

"Akan turun harga 15 persen. Garuda juga sudah bilang iya. Rini (Menteri BUMN) kan juga sudah bilang," katanya.

Menurut Luhut, penurunan tarif batas bawah itu seharusnya tidak akan mengganggu kinerja perseroan. Ia pun menyebut nantinya akan ada evaluasi.

Luhut meminta agar masyakat bisa tenang dan menunggu. Ia menyebut pemerintah telah melakukan sejumlah upaya untuk menurunkan harga tiket pesawat. Salah satunya adalah dengan membuka kesempatan swasta untuk masuk ke bisnis avtur.

Dengan demikian, Pertamina akan berkompetisi untuk bisa memberikan layanan penjualan avtur sehingga harga diharapkan bisa kompetitif. "Kita beda dengan Singapura (harga avtur) hampir 25 persen. Kita tidak mau ada beda jauh. Singapura udara saja impor, masak minyaknya lebih murah dari kita," katanya.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA