Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Mengapa Orang Kerap Berdehem? (1)

Kamis 16 May 2019 01:00 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Berdehem. (Ilustrasi)

Berdehem. (Ilustrasi)

Foto: vocaleze.com
Sering berdehem bukanlah kondisi medis, melainkan gejala gangguan kesehatan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang dapat sering berdehem karena merasa ada sesuatu yang menggelitik atau tersangkut di tenggorokan. Sensasi ini dapat terjadi bahkan ketika tidak ada apa pun di sana.

Berdehem bukanlah suatu kondisi medis, tapi itu bisa merupakan gejala dari satu gangguan kesehatan. Apa saja penyebab orang sering berdehem? Kapan harus mengunjungi dokter dan melakukan perawatan? Berikut penyebab orang sering berdehem, seperti dilansir laman Medical News Today, Rabu (15/5).

Postnasal drip

Sinus, tenggorokan, dan hidung semuanya menghasilkan lendir yang biasanya ditelan seseorang tanpa sadar. Ketika lendir mulai menumpuk atau menetes di bagian belakang tenggorokan itu artinya postnasal drip tengah terjadi.

Penyebab postnasal drip termasuk infeksi, alergi, dan refluks asam lambung. Penderitanya juga dapat melihat gejala tambahan, seperti sakit tenggorokan, serak, dan sering menelan.

Mengobati penyebab postnasal drip adalah cara terbaik untuk mengurangi upaya pembersihan tenggorokan dan gejala lainnya. Opsi perawatan dapat meliputi obat antihistamin untuk alergi sinus dan hidung, antibiotik untuk infeksi bakteri, antasida, penghambat reseptor H2, dan penghambat pompa proton untuk refluks asam lambung.

Tips lain untuk meredakan penyakit ini adalah mempertahankan hidrasi tubuh dan menggunakan dekongestan, semprotan hidung, dan metode irigasi salin untuk hidung.

Refluks asam lambung

Jenis refluks spesifik yang disebut laryngopharyngeal reflux (LPR) juga dikenal sebagai silent reflux yang sering menyebabkan orang sering berdehem.

LPR melibatkan asam dari lambung yang mengalir ke atas, ke kerongkongan dan ke laring dan faring, hingga menyebabkan iritasi tenggorokan. Menurut kajian pada 2013, hingga 60 persen orang dengan penyakit refluks gastroesofageal (GERD) mengembangkan gejala LPR.

Gejala tambahan LPR dapat meliputi suara serak, kesulitan menelan, dan sakit tenggorokan. Perawatan untuk LPR sama dengan perawatan GERD, termasuk obat-obatan, seperti antasida, penghambat reseptor H2, dan penghambat pompa proton.

Intervensi gaya hidup juga merupakan bagian penting dari pengelolaan gejala yang dialami seseorang. Ini termasuk menjaga berat badan yang sehat, berhenti menggunakan produk tembakau, menghindari makanan yang memicu gejala, dan membatasi asupan alkohol.

Alergi hidung

Alergi terjadi ketika sistem kekebalan tubuh bereaksi berlebihan terhadap keberadaan zat, yang disebut alergen, yang biasanya tidak berbahaya. Penyebab umum alergi hidung termasuk serbuk sari, debu, dan bulu binatang.

Alergi hidung dapat menyebabkan produksi lendir yang berlebihan, yang dapat menyebabkan sering berdehem. Gejala alergi tenggorokan lainnya hidung tersumbat atau berairmata gatal atau berair bersin.

Pilihan perawatan untuk alergi hidung antara lain, antihistamin, semprotan kranikosteroid intranasal dekongestan, dan suntikan alergi yang dapat membantu membangun toleransi terhadap alergen tertentu. Penderita alergi juga dapat mengurangi atau mencegah gejala-gejalanya dengan menghindari alergen yang diketahui.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA