Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Pelajari Gejala dan Tanda Cacar Monyet

Senin 13 Mei 2019 14:29 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari

Primata monyet bisa menularkan penyakit cacar monyet atau monkeypox ke manusia.

Primata monyet bisa menularkan penyakit cacar monyet atau monkeypox ke manusia.

Foto: Public Domain Pictures
Cacar monyet hanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Kementerian Kesehatan Singapura belum lama ini menemukan kasus cacar monyet atau monkeypox di negaranya. Indonesia sebagai salah satu negara tetangga, tentu harus mewaspadai penularan wabah cacar monyet tersebut. Lalu seperti apa gejala dan tanda cacar monyet?

Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan RI Anung Sugihantono menjelaskan beberapa gejala dan tanda cacar monyet. Gejala yang timbul biasanya berupa demam, sakit kepala hebat, limfadenopati (pembesaran kelenjar getah bening), nyeri punggung, nyeri otot dan lemas.

Selain itu, penderita juga akan mengalami ruam pada kulit dan wajah kemudian menyebar ke bagian tubuh lainnya. Ruam ini berkembang mulai dari bintik merah seperti cacar, lepuh berisi cairan bening, lepuh berisi nanah, kemudian mengeras. Biasanya diperlukan waktu hingga 3 minggu sampai ruam tersebut menghilang.

“Masa inkubasi atau interval dari infeksi sampai timbulnya gejala cacar monyet biasanya 6 sampai 16 hari, tetapi dapat berkisar dari 5 hingga 21 hari,” kata Anung saat dihubungi Republika, Senin (13/5).

Anung mengungkapkan, kasus cacar monyet yang tergolong parah lebih sering terjadi pada anak-anak dan terkait dengan paparan virus, status kesehatan pasien dan tingkat keparahan komplikasi. Kasus kematian akibat cacar monyet juga bervariasi tetapi kurang dari 10 persen kasus yang dilaporkan, sebagian besar di antaranya adalah anak-anak.

“Secara umum, kelompok usia yang lebih muda tampaknya lebih rentan terhadap penyakit monkeypox,” kata dia.

Monkeypox hanya dapat didiagnosis melalui pemeriksaan laboratorium. Untuk itu, bagi masyarakat yang baru melakukan perjalanan dari wilayah terjangkit monkeypox dianjurkan segera memeriksakan dirinya jika mengalami gejala-gejala demam tinggi yang mendadak, pembesaran kelenjar getah bening dan ruam kulit, dalam waktu kurang dari 3 minggu setelah kepulangan.

Menurut Anung, tidak ada pengobatan khusus atau vaksinasi yang tersedia untuk infeksi virus monkeypox. Pengobatan simptomatik dan suportif dapat diberikan untuk meringankan keluhan yang muncul.

Dia menerangkan monkeypox adalah penyakit akibat virus yang ditularkan melalui binatang (zoonosis). Penularan dapat terjadi melalui kontak dengan darah, cairan tubuh, atau lesi pada kulit atau mukosa dari binatang yang tertular virus. Penularan pada manusia terjadi karena kontak dengan monyet, tikus Gambia dan tupai, atau mengonsumsi daging binatang yang sudah terkontaminasi. Inang utama dari virus ini adalah rodent (tikus). Penularan dari manusia ke manusia sangat jarang.

Wilayah terjangkit monkeypox secara global yaitu Afrika Tengah dan Barat. Antara lain Republik Democratik Kongo, Republik Kongo, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Nigeria, Ivory Coast, Liberia, Sierra Leone, Gabon and Sudan Selatan. Hingga saat ini belum ditemukan kasus monkeypox di Indonesia.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA