Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

Minggu, 18 Rabiul Akhir 1441 / 15 Desember 2019

5 Motivasi untuk Berhenti Merokok

Jumat 03 Mei 2019 14:20 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Reiny Dwinanda

Kampanye stop merokok. (ilustrasi)

Kampanye stop merokok. (ilustrasi)

Foto: Antara/Zabur Karuru
Orang perlu punya motivasi yang kuat untuk mulai berhenti merokok.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Melepaskan diri dari belenggu rokok mungkin bukan perkara mudah bagi sebagian pecandu. Terlebih bila motivasi yang muncul dari dalam diri untuk berhenti merokok masih belum cukup kuat.

Ahli bedah toraks dari St Elizabeth, dr Royce Calhoun, mengungkapkan orang-orang hanya akan berhenti ketika mereka termotivasi untuk berhenti. Oleh karena itu, perokok baru akan terdorong untuk berhenti merokok bila mereka memahami nilai-nilai baik yang akan mereka dapatkan di kehidupan nyata ketika berhenti dari kebiasaan tersebut.

"Rokok memiliki dampak yang ebsar bagi kesehatan Anda," jelas Calhoun seperti dilansir Northern Kentucky Tribune.

Setiap kali menghisap rokok, sel-sel di dalam trakea dan saluran pernapasan yang lebih kecil akan lumpuh setidaknya selama satu jam. Saluran pernapasan tidak akan memiliki kesempatan untuk membersihkan tenggorokan maupun memulai proses pemulihan.

"Karena Anda melumpuhkan sel-sel itu setiap kali Anda menghisap sebatang rokok," tambah Calhoun.

Calhoun mengatakan sebagian besar perokok paham bahwa mereka harus berhenti. Namun, tak semua berkeinginan untuk berhenti merokok, kecuali mereka memiliki alasan yang konkrit.

Calhoun mengungkapkan setidaknya ada lima alasan konkrit yang bisa dipertimbangkan perokok agar mereka lebih termotivasi untuk berhenti merokok. Berikut ini adalah ke lima alasan tersebut.

Kesehatan

Ada beragam risiko penyakit yang bisa meningkat akibat kebiasaan merokok. Beberapa di antaranya merupakan penyakit berbahaya yang bisa mengancam nyawa. Penyakit-penyakit yang mungkin muncul akibat implikasi dari kebiasaan merokoka adalah kanker paru, penyakit paru obstruktif kronis (PPOK), empisema, pneumonia, bronkitis, penyakit jantung, penyakit vaskular, dan kanker kandung kemih.

Biaya

Meski tampak sepele, merokok merupakan kebiasaan yang membutuhkan cukup banyak biaya. Satu bungkus rokok memiliki harga jual yang cukup tinggi. Bila uang untuk membeli rokok dikumpulkan dan dibelanjakan keperluan lain tentunya akan lebih bermanfaat dan terlihat hasilnya.

Emosi

Ada banyak perokok yang mulai berhenti merokok demi keluarga dan orang-orang terkasih, khususnya cucu. Dengan berhenti merokok, seseorang dapat menjadi contoh yang baik bagi keturunan mereka kelak.

Baca Juga

Menjauhkan diri dari kebiasaan merokok juga dapat mengeliminasi risiko-risiko penyakit yang mungkin muncul sehingga harapan hidup menjadi lebih baik. Dengan begitu, seseorang akan dapat hidup lebih panjang untuk melihat anak-cucunya tumbuh dan berkembang.

Kosmetik

Satu hal lagi yang dapat dilakukan oleh rokok adalah membuat perokok tampak lebih tua. Merokok setiap hari dapat membuat perokok mengalami proses penuaan lebih cepat. Tak heran bila perokok biasanya akan tampak beberapa tahun bahkan beberapa puluh tahun lebih tua dari usia aslinya.

Dampak bagi orang lain

Merokok bukan hanya perkara yang berdampak pada diri sendiri. Banyak orang di sekeliling, terutama keluarga dan orang-orang terdekat, akan terdampak sebagai perokok pasif. Sebagai contoh, CDC mengungkapkan bahwa perokok dapat meningkatkan risiko penyakit pernapasan, asma, kanker, infeksi hingga sindrom kematian bayi mendadak atau SIDS pada bayi di dekat mereka.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA