Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Minggu, 24 Zulhijjah 1440 / 25 Agustus 2019

Dekan FKUI: Jangan Abaikan Rasa Kelelahan

Senin 22 Apr 2019 00:09 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadani/ Red: Andri Saubani

Disela-sela bertugas, Para anggota KPPS di RW 01, Kelurahan Nyengseret,  Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung mencari waktu untuk beristirahat  dimanapun. Waktu pnyelenggaraan pemilu yang ketat membuat waktu istirahat  menjadi berkurang.

Disela-sela bertugas, Para anggota KPPS di RW 01, Kelurahan Nyengseret, Kecamatan Astana Anyar, Kota Bandung mencari waktu untuk beristirahat dimanapun. Waktu pnyelenggaraan pemilu yang ketat membuat waktu istirahat menjadi berkurang.

Foto: Foto: Angga Nugraha
Sepertiga waktu aktivitas manusia adalah untuk beristirahat termasuk tidur.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Beberapa hari terakhir, kabar meninggalkan petugas Kelompok Penyelenggara Pemungutan Suara (KPPS) di berbagai wilayah muncul silih berganti usai pemungutan suara Pemilu 2019. Sebagian besar kasus kematian ini dikaitkan dengan kelelahan saat menjalankan tugas sebagai petugas KPPS.

Dalam beraktivitas, waktu manusia idelanya terbagi menjadi tiga. Sepertiga untuk bekerja keras, sepertiga untuk bekerja ringan dan sepertiga lainnya untuk beristirahat termasuk tidur.

"Kalau 'dilanggar', akan ada faktor-faktor (konsekuensi) yang bisa terjadi," ungkap Dekan FKUI Prof Dr dr Ari Fahrial Syam SpPD-KGEH MMB FINASIM FACP saat dihubungi Republika, Ahad (21/4).

Salah satu konsekuensi yang mungkin terjadi adalah kelelahan. Kelelahan ini dapat mempengaruhi kesehatan di kemudian hari.

Ari mencontohkan, kelelahan bsia memicu kambuhnya penyakit kronis pada seseorang yang sebelumnya sudah mengidap penyakit kronis. Penderita hipertensi misalnya, bisa memiliki tekanan darah yang tidak terkontrol akibat kelelahan. Pada penderita diabetes mellitus, kelelahan dapat membuat kadar gula darah juga ikut terganggu.

"Kalau dia ada masalah jantung, bisa mengalami serangan jantung misalnya (akibat kelelahan)," ujar Ari.

Di samping itu, Ari mengatakan, kelelahan juga tak hanya terbatas pada kelelahan fisik tetapi juga psikis. Ari menilai petigas-petugas KPPS tak hanya rentan terhadap kelelahan fisik tetapi juga psikis.

Kelelahan secara psikis bisa muncul dari tekanan atau stres pekerjaan yang cukup berat. Seperti diketahui, petugas-petugas KPPS bekerja di bawah tekanan yang cukup tinggi karena harus berpacu dengan tenggat waktu.

Beban kerja yang lebih berat dan rumit juga dapat memberi stres tersendiri. Bila tak terkelola dengan baik, Ari mengatakan faktor stres dapat memicu munculnya masalah-masalah kesehatan yang lain. Misalnya, gangguan asam lambung hingga sakit tenggorokan, sulit tidur dan nafsu makan menurun. Kondisi ini dapat membuat daya tahan tubuh pun ikut menurun sehingga tubuh menjadi lebih mudah terserang penyakit-penyakit lain.

Belum lagi adanya tekanan sosial yang menuntut petugas KPPS untuk tidak melakukan kesalahan. Kondisi ini juga memberi tekanan yang cukup besar bagi pihak-pihak yang berperan sebagai pengawas.

Kelelahan fisik pun, lanjut Ari, bukan hanya terjadi pada saat Pemilu Serentak diselenggarakan dan beberapa hari setelahnya. Para petugas KPPS mungkin sudah sibuk sejak beberapa hari sebelum Pemilu Serentak diselenggarakan.

"Ada banyak yang harus dicek, kerja sampai malam, bahkan sampai dini hari dan bahkan sampai pagi lagi baru selesai," lanjut Ari.

Belum lagi sebagian petugas KPPS mungkin bekerja dengan mengandalkan minuman-minuman berkafein seperti kopi dan minuman energi. Seperti diketahui, kafein dapat mempengaruhi kerja jantung.

Ari berharap, meninggalnya petugas KPPS yang dilatarbelakangi oleh kelelahan tidak terjadi lagi di pemilu-pemilu selanjutnya. Ari mencontohkan salah satu cara yang bisa dilakukan untuk mencegahnya adalah dengan menerapkan sistem shift.

Sistem shift tak hanya dapat memberi kesempatan bagi pekerja untuk mendapatkan istirahat yang cukup tetapi juga menjaga fokus saat bekerja. Ari mengatakan manusia bsia berkonsentrasi secara optimal pada delapan jam pertama saat bekerja. Setelah itu daya konsentrasi akan mulai menurun, bila dipaksakan bekerja risiko terjadinya human error akan cukup tinggi.

Bila memperhatikan jam biologis, idealnya manusia mendapatkan delapan jam waktu istirahat. Dua jam di antaranya digunakan untuk kegiatan-kegiatan istirahat seperti makan, duduk-duduk santai tanpa ada aktivitas pekerjaan. Sedangkan enam jam lainnya digunakan untuk tidur.

"Idelanya jam biologis manusia seperti itu. Ini bukan konsep asal ngomong, tapi sudah diuji genetik segala macam, ditemukan oleh pakar dan dia mendapat (penghargaan) Nobel untuk itu," terang Ari.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA