Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Sunday, 17 Zulhijjah 1440 / 18 August 2019

Tak Bisa ke Gym? Gantikan dengan Berkebun atau Menari

Senin 15 Apr 2019 11:43 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Berkebun (ilustrasi)

Berkebun (ilustrasi)

Foto: ©Yourhomewizard
Tak semua orang mau dan mampu ke gym sehingga berkebun bisa jadi alternatif

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para pakar kesehatan banyak menyarankan latihan di gym demi memperoleh tubuh yang bugar. Akan tetapi pada kenyataannya tidak semua orang mau dan mampu menghabiskan waktu di gym. Sejatinya banyak kegiatan sehari-hari yang bisa menggantikan aktivitas di pusat kebugaran. Contohnya berkebun, menari, atau berjalan-jalan.

Baca Juga

Menurut studi baru di British Journal of Sports Medicine, semua kegiatan sederhana itu dapat mengurangi risiko kematian. Aktivitasnya hanya perlu dilakukan selama 10 menit per pekan.

Studi ini mengamati 88.140 orang dewasa di Amerika Serikat berusia antara 40 dan 85 tahun. Setiap peserta diminta melaporkan kegiatan fisik yang mereka lakukan dan berapa menit per hari atau per pekan. Laporan ini sebagai bagian dari Survei Wawancara Kesehatan Nasional.

Lari, berjalan, bersepeda, atau berpartisipasi dalam beberapa jenis olahraga kompetitif semuanya digolongkan sebagai waktu aktivitas yang aktif. Sementara segala hal mulai dari jalan cepat hingga menari atau berkebun dianggap aktivitas fisik ringan atau sedang.

 

Dikutip dari Popular Science, para peneliti kemudian mengikuti orang-orang itu selama 12 tahun hingga 2009. Tujuannya untuk melihat apa yang terjadi pada mereka. Dari hasil pemantauan tersebut, tim mendapatkan data yang sangat besar tentang seberapa banyak orang berolahraga per pekan. Data juga menunjukkan bagaimana orang-orang itu meninggal dan beberapa faktor terkait dengan olahraga yang mungkin memengaruhi hasil ini.

Hasil menunjukkan orang yang berolahraga lebih giat dan lebih sering selama sepekan cenderung dilakuka laki-laki dan mereka terlihat lebih muda dan lebih putih. Mereka lebih cenderung menikah, tidak menjadi perokok, dan minum alkohol lebih sedikit.

Sebagian besar peserta dalam penelitian ini tidak benar-benar berolahraga sama sekali. Akan tetapi ternyata ada kelompok yang masuk dalam aktivitas ringan. Mereka melakukan aktivitas fisik antara 10 hingga 59 menit sepekan memiliki risiko kematian 19 persen lebih rendah. Melakukan aktivitas ringan ini selama beberapa menit tidak membantu secara tinggi untuk menurunkan risiko kematian secara keseluruhan.

Kelompok yang berolahraga selama 60 hingga 149 menit hanya menurunkan risiko kematian 22 persen lebih rendah. Mereka yang berolahraga ringan 300-599 menit sepekan punya risiko kematian paling rendah di antara kelompok lain yakni 26 persen. Akan tetapi, melakukan olahraga dalam jumlah yang semakin banyak tampaknya membantu.

Berolahraga selama 10 hingga 59 menit dengan keras menurunkan risiko sebesar 26 persen, memuncak pada 34 persen bagi mereka yang melakukan di atas 150 menit yang disarankan setiap pekan. Semua efek ini membesar ketika para peneliti berfokus hanya pada kematian akibat penyakit kardiovaskular.

Olahraga teratur, seperti yang mungkin sudah diketahui, terikat erat dengan sistem kardiovaskular yang lebih sehat. Sebagian karena membantu jantung meregenerasi sel-sel baru. Melakukan olahraga ringan hingga sedang hanya 10 hingga 59 menit membuat risiko itu turun sebesar 16 persen.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA