Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Thursday, 15 Rabiul Akhir 1441 / 12 December 2019

Mengobati Kanker dengan Imunoterapi

Sabtu 06 Apr 2019 12:47 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Gita Amanda

Kanker Paru (ilustrasi)

Kanker Paru (ilustrasi)

Foto: Republika TV/Fian Firatmaja
Prinsip imunoterapi manfaatkan mekanisme kekebalan sel-sel tubuh sendiri lawan kanker

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Imunoterapi merupakan terobosan terbaru dalam pengobatan kanker. Terapi ini  menggunakan sistem kekebalan tubuh sendiri untuk melawan sel-sel kanker dan ini bukan hanya bisa diterapkan untuk penderita kanker paru-paru.

Konsultan Hematologi dan Onkologi Medik dari MRCCC Siloam Hospitals, dr. Jeffry B. Tenggara, Sp.PD, KHOM, mengatakan kanker tumbuh secara perlahan, dan pada awalnya kekebalan tubuh manusia dapat membasmi sel kanker sebelum berkembang lebih lanjut. Seiring waktu, sel kanker bertumbuh makin cepat hingga kekebalan tubuh tidak dapat lagi mengimbangi pertumbuhan kanker. Beberapa jenis kanker juga memiliki mekanisme untuk menghancurkan sel limfosit T.

“Jadi, prinsip imunoterapi ini memanfaatkan mekanisme kekebalan sel-sel tubuh kita sendiri untuk melawan kankernya,” tegas dr. Jeffry.

Saat ini imunoterapi yang sudah banyak dipakai adalah check point inhibitor yang salah satunya adalah anti PD-1. Di Indonesia, anti PD-1 disetujui oleh BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) untuk pengobatan kanker paru dan kanker kulit jenis melanoma maligna. Ini adalah jenis kanker kulit yang paling ganas, yang menjangkiti Jimmy Carter.

Kini penggunaannya tidak sebatas pada kedua kanker tersebut. Di penelitian maupun di tempat praktik, imunoterapi anti PD-1 juga digunakan untuk berbagai kanker lain, yang telah dibuktikan mengekspresikan PD-L1.

Spesialis onkologi medik Dr. dr. Andhika Rachman, Sp.PD-KHOM dari FKUI/RSCM, Jakarta di Indonesia, telah menggunakan obat ini untuk pasien kanker pankreas, kanker payudara, kanker empedu, hingga kanker kepala dan leher. Anti PD-1 biasa diberikannya pada pasien dengan status performa fisik yang kurang baik.

Baca Juga

“Obat yang diberikan untuk terapi sistemik haruslah yang tidak menurunkan status performa pasien,” ujarnya.

Hasilnya cukup baik dan tanpa efek samping, meski efikasinya tidak sebaik pada kanker paru dan melanoma. Pasien tertua yang diberikan imunoterapi anti PD-1 oleh Dr. dr. Andhika berusia 82 tahun, yang menderita kanker pankreas. Pasien tersebut mendapat anti PD-1 sebanyak 12x. Pasien ini masih hidup sampai sekarang, setahun lebih setelah pengobatan dengan anti PD-1.

“Selama pengobatan pun kualitas hidupnya bagus. Dia bisa beraktivitas sehari-hari seperti biasa,” lanjutnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA