Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Per 2 Hari, Kematian TB Setara Penumpang 3 Boeing

Senin 25 Mar 2019 12:52 WIB

Rep: Adysha Citra Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Pameran foto dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) yang digelar Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Bandung di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Senin (9/4).

Pameran foto dalam rangka peringatan Hari Tuberkulosis (TBC) yang digelar Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Bandung di Bandara Husein Sastranegara, Kota Bandung, Senin (9/4).

Foto: Republika/Edi Yusuf
Sekitar 75 persen kasus TB menyerang kelompok usia produktif.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Secara statistik, penyakit tuberkulosis (TB) masih menjadi penyebab kematian terbanyak untuk penyakit infeksi di Indonesia. Diperkirakan setiap satu jam ada 13 orang yang meninggal dunia akibat TB atau sekitar 312 orang meninggal per hari akibat TB di Indonesia.

"Artinya setiap dua hari sekali ada tiga pesawat Boeing 737 isinya penumpang TB semua, meninggal dunia. Tapi kita tidak pernah heboh (soal kematian akibat TB)," ujar Kasubdit TB Kementerian Kesehatan RI dr Imran Pambudi MPHM dalam peringatan hari tb Sedunia bersama PR TBC-HIV Aisyiyah di Perguruan Muhammadiah Tebet Timur, Jakarta.

Tak hanya itu, Imran mengatakan sekitar 75 persen kasus TB menyerang kelompok usia produktif yaitu 15-45 tahun. Potensi kerugian yang ditimbulkan TB pun tidak main-main. Selain dapat menurunkan kualitas hidup penderitanya, penyakit tb juga berpotensi menyebabkan penderitanya kehilangan pekerjaan.

Mengutip hasil studi yang dilakukan Bappenas pada 2014, Imran mengatakan pasien TB biasa kehilangan pendapatan sekitar 38 persen. Sedangkan pada kasus TB resisten obat (TB RO), sekitar penderitanya kehilangan sekitar 70 persen pendapatan. Hal ini berkaitan dengan pasien-pasien TB yang harus kehilangan pekerjaan karena penyakit mereka.

"Sekitar 26 persen pasien TB biasa berpotensi kehilangan pekerjaan, sedangkan separuh lebih dari pasien TB berat (TB RO) berisiko kehilangan pekerjaan," lanjut Imran.

Oleh karena itu, penting untuk memangkas masalah penyebaran dan penularan TB hingga ke akar. Imran mengatakan Indonesia dan negara-negara lain di dunia mencanangkan eliminasi TB pada 2030 mendatang. Eliminasi artinya hanya ada 1 kasus TB per 1 juta penduduk dalam satu tahun.

"Upaya ini harus dimulai dari sekarang. Karena itu slogan hari TB Sedunia 2019 adalah 'It's TIME', sudah saatnya," jelas Imran.

Dalam upaya mengeliminasi TB, upaya penting selain mengobati penyakitnya adalah melakukan pencegahan. Upaya pencegahan perlu dilakukan karena satu penderita TB berpotensi menularkan sekitar 15 orang di sekitarnya melalui droplet batuk hibgga bersin yang beredar di udara.

Untuk bisa mencegah penularan, hal penting lain yang tak boleh dilupakan adalah menemukan pasien TB dan mengobatinya hingga tuntas. Imran mengatakan dari estimasi 842 ribu kasus TB baru per tahun di Indonesia, baru sekitar 61 persen yang terdaftar dalam registry pelaporan dan mendapatkan pengobatan.

"Artinya, sisanya bisa saja mereka sudah diobati tapi tidak masuk program, atau memang belum ditemukan. Ini yang jadi perhatian kita," terang Imran.

Menemukan dan mengobati pasien TB hingga tuntas berarti memutus mata rantai penularan. Untuk itu, Kementerian Kesehatan RI terus melakukan beragam upaya dan menjalin kerjasama dengan berbagai pihak untuk menemukan pasien-pasien TB baru yang belum terdeteksi selama ini. Salah satunya ialah menjalin kerjasama dengan PR TBC-HIV Aisyiyah.



Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA