Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Pengemudi Remaja Cenderung Terlalu Pede di Jalanan

Selasa 19 Mar 2019 15:01 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Reiny Dwinanda

Remaja menyetir sambil main ponsel. Ilustrasi

Remaja menyetir sambil main ponsel. Ilustrasi

Foto: CNN
Kecelakaan yang dialami pengemudi remaja terjadi akibat terlalu pede di jalanan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi menunjukkan penyebab kecelakaan pada pengemudi remaja bukan hanya telepon genggam. Ketika tidak terganggu oleh ponsel, remaja yang meraih atau menangani objek lain saat mengemudi hampir tujuh kali lebih besar kemungkinannya mengalami kecelakaan daripada remaja yang konsentrasi penuh dengan kemudi.

"Dibandingkan dengan pengemudi yang lebih tua, pengalaman berkendara remaja yang terbatas dan karakteristik jiwa muda dapat membuat perhatian mereka teralih apalagi saat mereka melakukan kegiatan sampingan saat mengemudi," jelas pemimpin studi Pnina Gershon dari National Institutes of Health di Bethesda, Maryland seperti dilansir Channel News Asia, Selasa (19/3).

Selain itu, remaja cenderung terlalu percaya diri dengan kemampuan mereka untuk mengemudi sambil melakukan hal lain. Gershon mengatakan, remaja juga merasa mereka adalah pengadopsi awal teknologi. Artinya, mereka cenderung cepat berkenalan dengan teknologi baru dan mungkin akan menggunakannya sambil mengemudi.

Kecelakaan kendaraan bermotor adalah penyebab utama kematian dan kecacatan di antara pengemudi yang berusia 15 hingga 20 tahun. Hal itu menjadi catatan para peneliti dalam American Journal of Preventive Medicine.

Remaja yang mengoperasikan ponsel secara manual saat mengemudi hampir tiga kali lebih besar kemungkinan mengalami kecelakaan daripada pengemudi muda yang tidak melakukannya. Walaupun banyak para peneliti telah lama memahami bahwa pengemudi yang terganggu cenderung celaka, studi ini menyodorkan bukti baru bahwa kemungkinan kecelakaan pada remaja dapat bervariasi berdasarkan pada jenis kegiatan yang menyebabkan konsentrasi mereka teralih dari jalan.

Dalam studi saat ini, para peneliti melengkapi mobil yang digunakan oleh 82 pengemudi remaja berlisensi dengan kamera dan sensor untuk mendeteksi bagaimana berbagai gangguan dan situasi mungkin berkontribusi terhadap kurangnya perhatian atau kecelakaan. Para remaja mengendarai mobil-mobil ini selama tahun pertama mereka di jalan, mulai ketika mereka rata-rata berusia 16,5 tahun.

Ketika para peneliti membandingkan klip video yang diambil selama kecelakaan dengan klip dari periode mengemudi secara acak, mereka menemukan pengemudi remaja melakukan setidaknya satu tugas lain saat mengemudi dalam 51 persen kasus kecelakaan dan sekitar 56 persen saat mereka tidak masuk tabrakan. Interaksi dengan penumpang di dalam mobil terjadi 21 persen dari waktu remaja mengalami ataupun tidak tabrakan.

Penggunaan ponsel secara manual alias tanpa hands-free, terjadi pada 10 persen dari kecelakaan. Akan tetapi, angka selamat dari kecelakaan hanya lima persen.

Mengambil makanan ringan, minuman, atau benda lain terjadi dalam 11 persen tabrakan dibandingkan dengan hanya tiga persen dari waktu ketika pengemudi muda ini tidak terlibat tabrakan.

Sementara itu, memalingkan mata dari jalan terlalu lama menyumbang 41 persen dari risiko kecelakaan yang terkait dengan penggunaan ponsel. Lantas, memegang benda-benda lain menyumbang 10 persen dari risiko tabrakan.

Penelitian ini bukan eksperimen terkontrol yang dirancang untuk membuktikan apakah atau bagaimana penggunaan ponsel atau objek lain dapat secara langsung menyebabkan tabrakan. Itu juga tidak dirancang untuk menentukan berapa banyak remaja yang lebih aman dengan penggunaan ponsel hands-free daripada mengoperasikan ponsel secara manual.

"Meski begitu, teknologi mungkin sangat mengganggu pengemudi yang lebih muda dan kurang berpengalaman," kata Dr. Scott Hadland, dokter spesialis anak dan remaja di Boston Medical Center yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Menurut Hadland, pengemudi yang berpengalaman mungkin lebih mampu mengimbangi penurunan kemampuan mengemudinya akibat konsentrasi mereka buyar daripada pengemudi yang tidak berpengalaman. Ia juga memperkirakan pengemudi yang berpengalaman lebih mampu mengurangi risiko dengan memilih untuk menggunakan ponsel dengan risiko tabrakan yang tlebih rendah, seperti ketika mengemudi dengan lambat atau ketika jalanan sedang sepi.

"Ketika berbicara tentang keselamatan jalan raya, orang tua perlu memberi contoh," kata Despina Stavrinos, direktur Penelitian Penerjemahan untuk Laboratorium Pencegahan Cidera di Universitas Alabama di Birmingham.

"Orang tua harus memberikan contoh positif dengan membatasi penggunaan ponsel saat mengemudi sehingga anak-anak mereka dapat mempelajari perilaku mengemudi yang tepat dan aman," kata Stavrinos, yang tidak terlibat dalam penelitian ini.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA