Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Thursday, 20 Muharram 1441 / 19 September 2019

Pakar Pandang Pengetahuan Cawapres tentang Stunting Rendah

Senin 18 Mar 2019 16:53 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Indira Rezkisari

Cawapres nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin (kiri) dan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) mengikuti Debat Pilpres putaran ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad (17/3).

Cawapres nomor urut 01 KH Ma'ruf Amin (kiri) dan cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) mengikuti Debat Pilpres putaran ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Ahad (17/3).

Foto: Antara/Wahyu Putro A
Anak-anak stunting akan menjadi beban saat bonus demografi mendatang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Semalam masyarakat Indonesia sudah menyaksikan debat cawapres yang disiarkan langsung di televisi. Salah satu isu yang menjadi sorotan adalah mengenai isu kesehatan.

Baca Juga

Hal ini jelas mengundang para praktisi kesehatan untuk turut berkomentar mengenai debat tersebut. Salah satunya adalah Prof Ari Fahrial Syam yang saat ini menjabat sebagai Dekan FKUI yang juga salah satu dokter spesialis penyakit dalam di RSCM.

"Saya menyaksikan langsung dari layar kaca acara debat cawapres semalam. Secara umum kedua kandidat berusaha mengangkat masalah kesehatan yang ada saat ini yaitu mengenai stunting, jaminan kesehatan nasional (JKN) serta pencegahan dan promosi kesehatan," ujarnya, Senin (18/3).

Perhatian utama Prof Ari adalah isu stunting. Menurutnya pengetahuan kedua kandidat tentang stunting masih belum optimal.

Wajar karena memang kedua kandidat tidak mempunyai latar belakang kesehatan. Stunting sepertinya kurang disadari berhubungan dengan masalah serius bangsa, anak-anak stunting akan menjadi beban saat bonus demografi nanti datang.

"Stunting bukan saja bicara anak-anak yang lebih pendek dari rata-rata tinggi anak seusianya tapi juga dikaitkan dengan kecerdasan yang juga lebih rendah jika dibandingkan dengan teman-temannya," jelasnya.

Sehingga anak-anak stunting ini tidak bisa seproduktif anak-anak seusianya di usia remaja dan dewasanya.

Ia menambahkan stunting bukan saja masalah asupan dan intake makanan. Tapi yang penting adalah stunting juga bicara soal kemiskinan, kemampuan untuk membeli makanan yang bergizi baik untuk ibu calon ibu, bayi baru lahir dan asupan makan untuk balita. Bahkan bukan saja untuk makanan yang bergizi untuk makan sehari-hari saja mungkin juga susah.

Selain itu, stunting juga bicara soal kematangan ibu saat menikah dan hamil. Karena memang segala sesuatunya harus dipersiapkan dengan baik.

Ia menambahkan stunting juga berhubungan dengan fasilitas kesehatan khususnya untuk kesehatan ibu dan anak. Bagaimana kondisi si calon ibu, baik sebelum menikah, saat menjadi ibu hamil, dan juga proses melahirkan sampai perawatan bayi baru lahir termasuk program imunisasinya.

"Saat masa kritis pertumbuhan 1.000 hari pertama kehidupan ibu hamil dan bayi yang dilahirkan tidak mengalami infeksi kronis dan tidak malnutrisi."

Karena itu, pengadaan air bersih menjadi penting, mengingat kualitas air yang tidak bersih membuat bayi bisa terpapar dengan diare.

Pelayanan kesehatan belum terdistribusi dengan baik atau akses masyarakat untuk mendapat pelayanan kesehatan belum optimal. Sehingga penanganan permasalahan kesehatan juga belum optimal baik untuk perawaran selama hamil (antenatal care), saat melahirkan dan pasca melahirkan. Si bayi pun terjaga masalah kesehatannya.

"Secara keseluruhan kepedulian kedua kandidat terhadap masalah stunting cukup tinggi cuma memang bagaimana strategi untuk mengatasi masalah ini belum sesuai dengan harapan karena mengatasi stunting bukan saja masalah sedekah putih atau ASI eksklusif," jelasnya.

Ari menilai, stunting memerlukan penanganan yang menyeluruh dengan melibatkan semua sektor. Karena berhubungan dengan kehidupan yang layak dengan terpenuhi kehidupan primer dengan ditunjang oleh fasilitas kesehatan yang memadai.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA