Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Kisah Sukses Pisang Goreng Madu Bu Nanik

Jumat 15 Mar 2019 07:35 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Indira Rezkisari

Nanik Soelistiowati, pemilik outlet pisang goreng madu yang meraih juara partner Gofood kategori jajanan sore se-Jabodetabek.

Nanik Soelistiowati, pemilik outlet pisang goreng madu yang meraih juara partner Gofood kategori jajanan sore se-Jabodetabek.

Foto: Republika/Gumanti Awaliyah
Ide Bu Nanik muncul saat melihat banyak pisang yang terbuang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Dari rupa, pisang goreng madu olahan Bu Nanik tampak tidak begitu menjanjikan, karena warnanya hitam seperti gosong. Namun setelah mencobanya, aroma dan cita rasa madu yang menyegarkan dan tekstur pisang goreng yang pulen dan renyah dijamin mampu memanjakan lidah Anda.

Sebab itulah, outlet pisang goreng madu Bu Nanik yang berada di Tanjung Duren, Jakarta Barat, tidak pernah sepi pesanan. Bahkan pisang goreng madu Bu Nanik berhasil meraih anugerah juara mitra Gofood kategori jajanan sore se-Jabodetabek.

Saat ditemui pada acara penghargaan kuliner Gojek di GBK, Kamis (14/3), Nanik Soelistiowati sang pencetus olahan pisang goreng madu sempat berbagi kisah tentang awal mula berjualan pisang goreng madu. Nanik mengungkapkan, usaha pisang goreng madu yang kini ditekuninya diawali dari sebuah ketidaksengajaan.

Pada tahun 1994 lalu, Nanik mengawali usahanya dengan membuka katering. Kala itu, salah satu langganan Nanik yaitu menyediakan makan untuk para karyawan beberapa hotel kenamaan di Jakarta. Seperti hotel Dharmawangsa, Harris, Parkline, Ibis dan lainnya.

Singkat cerita, pada saat itu buah pisang menjadi salah satu makanan yang sering terbuang. Muncul ide mengolah kembali pisang yang sudah tidak bagus tersebut.

“Ya biasa ya dulu saya goreng pisang yang tidak bagus pakai adonan tepung dan gula. Dan saya sajikan untuk kudapan di rumah saja, tapi karena ibu saya takut diabetes, dia minta agar gulanya diganti dengan madu. Ya sudah saya ganti dan ternyata banyak yang suka,” kenang Nanik.

Dia menjelaskan, warna hitam pada goreng kurang nya tersebut merupakan karamelisasi dari campuran madu.

Melihat antusiasme keluarga saat mencicipi pisang goreng madu buatannya, akhirnya Nanik mencoba memasukkan pisang goreng madu olahannya tersebut ke dalam menu katering karyawan. Awalnya, banyak keluhan datang, karena pisang goreng itu terlihat gosong dan tidak menarik. Namun setelah dicicipi, para karyawan malah ketagihan.

“Dari situ mulai ada yang pesan minta dibuatkan, dan akhirnya pada tahun 2009 saya mulai membuka outlet di Tanjung Duren,” kata Nanik.

Pada saat mulai berjualan, omset penjualan Nanik tidak langsung besar seperti sekarang. Menurut Nanik, dulu outletnya hanya mampu menjual satu sampai tiga ikat pisang per hari. Sedangkan sekarang, bisa mencapai dua sampai tiga pick up pisang per hari.

“Saya tidak mau bicara nominal omset ya, takut dikira sombong, tapi sekitar segitulah kalau dilihat dari pisang,” kata dia.

Nanik mengaku belum membuka cabang di manapun, sebab dia takut kualitas rasa menurun atau berbeda. Namun ke depan dia tidak menutup kemungkinan akan membuka outlet pisang goreng madu olahannya.

“Saya utamakan rasa dan kualitas. Karena saya quality kontrol saya sangat ketat, jadi kalau mau buka cabang belum sampai saat ini,” kata dia.


Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA