Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Senin, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Gerakan Antivaksin Berisiko Tingkatkan Jumlah Kasus Campak

Senin 04 Mar 2019 12:33 WIB

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Indira Rezkisari

Anak-anak Filipina bermain di kawasan kumuh di area yang terdampak KLB campak di Manila, 16 Februari 2019.

Anak-anak Filipina bermain di kawasan kumuh di area yang terdampak KLB campak di Manila, 16 Februari 2019.

Foto: EPA
WHO catat kasus campak di seluruh dunia melonjak hampir 50 persen di 2018.

REPUBLIKA.CO.ID, SAN FRANSISCO -- Badan Anak-Anak PBB (Unicef) memperingatkan bahaya dari gerakan antivaksin yang masih dianut di sejumlah negara. Sikap orang tua yang tidak memercayakan anaknya mendapatkan vaksin berisiko menyebabkan lonjakan jumlah kasus campak.

Direktur Eksekutif Unicef, Henrietta Fore, menginformasikan terjadinya peningkatan jumlah kasus campak di 98 negara pada 2018, dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Sebanyak tiga perempat lonjakan tercatat di 10 negara, termasuk Prancis.

Dia mengimbau orang tua untuk memperhatikan peringatan itu. Ada vaksin yang aman, efektif, dan murah untuk mencegah penyakit campak yang sangat menular. Faktanya, pemberian vaksin menyelamatkan hampir satu juta jiwa per tahun selama dua dekade terakhir.

Selain keyakinan bahwa penyakit tidak akan menyerang, konflik atau perang juga menjadi faktor lain lonjakan jumlah. Hal tersebut mengkhawatirkan sebab campak lebih mudah menular daripada tuberkulosis atau ebola.

"Kasus-kasus ini tidak terjadi dalam semalam. Seperti halnya wabah serius yang kita saksikan hari ini dipicu pada pilihan kita tahun 2018. Kurangnya tindakan hari ini akan berdampak buruk bagi anak-anak kelak," kata Fore, dikutip dari laman Malay Mail.

Data resmi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menunjukkan, kasus campak di seluruh dunia melonjak hampir 50 persen sepanjang 2018. Penyakit menewaskan sekitar 136 ribu orang. Negara dengan jumlah kasus terbanyak adalah Ukraina, Filipina, dan Brasil.

Pada 2018, sebanyak 35.120 kasus tercatat di Ukraina, hampir 30 ribu lebih banyak dibandingkan 2017. Sementara Brasil melaporkan 10.262 kasus, setelah tahun sebelumnya bersih dari penyakit tersebut. Lonjakan di Prancis mencapai angka 2.269.

Negara lain yang termasuk dalam daftar adalah Yaman, Venezuela, Serbia, Madagaskar, Sudan, dan Thailand. Munculnya kasus penyakit campak secara masif di beberapa negara disinyalir terjadi akibat klaim medis tidak berdasar bahwa vaksin berkaitan dengan autisme.

Informasi yang kurang tepat itu menyebabkan media sosial penuh dengan gerakan antivaksin. Bulan lalu, WHO memasukkan "keragu-raguan menerapkan vaksin" dalam daftar 10 ancaman kesehatan global paling mendesak di tahun 2019.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA