Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Monday, 21 Rabiul Awwal 1441 / 18 November 2019

Depresi Dipengaruhi Konsumsi Makanan

Jumat 22 Feb 2019 05:02 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Nur Aini

depresi. Ilustrasi

depresi. Ilustrasi

Foto: Fakeelvis @Flickr
Konsumsi makanan tidak sehat berhubungan dengan depresi.

REPUBLIKA.CO.ID, KALIFORNIA -- Sebuah penelitian menemukan kesehatan mental yang buruk, berkaitan dengan kualitas makanan yang tidak sehat. Hal itu terlepas dari karakteristik pribadi seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, status perkawinan, dan tingkat pendapatan.

Studi yang dipublikasikan 16 Februari lalu dalam Jurnal Internasional Ilmu dan Nutrisi Makanan, mengungkap bahwa orang dewasa di Kalifornia yang mengkonsumsi lebih banyak makanan tidak sehat, lebih mungkin melaporkan gejala tekanan psikologis sedang atau berat daripada rekan-rekan mereka yang mengonsumsi makanan sehat.

Professor di Sekolah Kesehatan Masyarakat Universitas Loma Linda dan penulis utama studi tersebut, Jim E Banta mengatakan hasilnya mirip dengan penelitian sebelumnya di negara lain bahwa ada hubungan antara penyakit mental dan diet yang tidak sehat. Ia mencontohtkan peningkatan konsumsi gula telah dikaitkan dengan gangguan bipolar, begitu juga konsumsi makanan yang telah digoreng atau mengandung banyak gula dan biji-bijian olahan dikaitkan dengan depresi.

"Ini dan penelitian lain seperti itu dapat memiliki implikasi besar untuk perawatan dalam pengobatan behavorial," kata Banta seperti dilansir Nes Medical, Kamis (21/2).

Karena itu, Banta menilai peran diet sehat sangat penting dalam menjaga kesehatan mental.

"Karena bisa jadi pilihan diet sehat berkontribusi pada kesehatan mental. Penelitian lebih lanjut diperlukan sebelum kita dapat menjawab secara pasti, tetapi bukti tampaknya menunjuk ke arah itu," ujar Banta.

Banta mengingatkan bahwa kaitan yang ditemukan antara pola makan yang buruk dan penyakit mental bukanlah hubungan sebab akibat. Namun, ia mengatakan temuan dari Kalifornia dibangun berdasarkan studi sebelumnya dan dapat mempengaruhi penelitian di masa depan dan pendekatan yang diberikan oleh penyedia layanan kesehatan untuk perawatan obat perilaku.

Banta dan timnya meninjau data dari lebih dari 240 ribu survei telepon yang dilakukan antara 2005 dan 2015 sebagai bagian dari Survei Wawancara Kesehatan Multi-tahun (CHIS) multi-tahun. Dataset CHIS mencakup informasi luas tentang sosio-demografi, status kesehatan dan perilaku kesehatan dan dirancang untuk memberikan perkiraan di seluruh negara bagian untuk wilayah di California dan untuk berbagai kelompok etnis.

Studi tersebut menemukan bahwa hampir 17 persen orang dewasa Kalifornia kemungkinan menderita penyakit mental, 13,2 persen dengan tekanan psikologis sedang, dan 3,7 persen dengan tekanan psikologis parah. Studi tersebut menyatakan bahwa temuan tim memberikan "bukti tambahan bahwa kebijakan publik dan praktik klinis harus bertujuan untuk meningkatkan kualitas diet bagi pejuang kesehatan mental.

Ia juga menyatakan bahwa diet untuk orang-orang dengan penyakit mental harus dilakukan terutama menargetkan orang dewasa muda, mereka yang kurang dari 12 tahun pendidikan, dan orang-orang gemuk.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA