Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Wednesday, 14 Rabiul Akhir 1441 / 11 December 2019

Terapi Apnea Tidur Bantu Anak Lebih Aman di Jalan

Selasa 12 Feb 2019 08:46 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Waktu tidur yang cukup berpengaruh pada kesehatan mental anak.

Waktu tidur yang cukup berpengaruh pada kesehatan mental anak.

Foto: pixabay
Terapi PAP dapat membantu mereka untuk lebih berkonsentrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah studi baru menunjukkan anak-anak dengan apnea tidur (gangguan tidur dengan kesulitan bernapas) obstruktif mungkin lebih rendah risiko mengalami kecelakaan di jalan saat siang hari, jika mereka melakukan terapi tekanan saluran napas positif (PAP) pada malam hari.

Penulis penelitian melaporkan dalam jurnal Sleep Health, yang penting anak-anak harus secara konsisten mendapatkan terapi PAP untuk pengobatan. "Gangguan tidur memiliki konsekuensi dunia nyata, bahkan konsekuensi hidup dan mati. Seseorang yang lelah, baik anak atau orang dewasa akan melakukan cara yang sama ketika mereka beristirahat," kata penulis studi senior, David Schwebel dari Universitas Alabama di Birmingham.

Penulis menyatakan, setiap tahun terdapat lebih dari 6.000 pejalan kaki di Amerika Serikat terbunuh dan 190 ribu terluka. Sebagian besar dari mereka adalah anak-anak. Mencegah cedera pejalan kaki anak harus menjadi prioritas.

Apnea tidur obstruktif biasanya terjadi ketika jalan napas seseorang terhambat beberapa kali selama tidur, mengganggu pernapasan secara berulang-ulang pada malam hari. Penulis memperkirakan terdapat antara satu-lima persen anak-anak yang tidak mengalami obesitas dan 25-40 persen anak-anak yang mengalami obesitas memiliki kondisi tersebut.

Terapi PAP mengharuskan pasien memakai masker yang menutupi hidung dan mulut saat tidur. Topeng terhubung ke mesin yang terus-menerus meniupkan udara untuk menjaga jalan nafas tetap terbuka.

"Ketika seseorang berjuang dengan gangguan tidur, mereka bisa lelah secara kronis, dan itu dapat memengaruhi dunia nyata, termasuk risiko cedera yang tidak disengaja, atau kecelakaan," kata Schwebel kepada Reuters Health melalui email.

Para peneliti mempelajari 42 anak-anak di Children's of Alabama Pediatric Sleep Disorders Center antara usia delapan-16 yang didiagnosis dengan sindrom apnea tidur obstruktif atau OSAS melalui tes tidur. Sebelum menjalani terapi PAP, anak-anak memainkan program realitas virtual dengan persimpangan jalan yang disimulasikan.

Ketika avatar anak itu menyeberang jalan, mereka akan mendengar pesan seperti, "Ya! Kerja bagus!" atau "Whoa! Itu sudah dekat!" Jika ditabrak mobil dalam simulasi, mereka akan mendengar, "Eh, Anda harus mencobanya lagi."

Selama simulasi, para peneliti mengukur berapa banyak tabrakan terjadi, berapa kali anak-anak melihat ke kiri dan kanan pada lalu lintas sebelum menyeberang, dan waktu yang diperlukan untuk melakukan kontak dengan mobil. Dengan waktu yang lebih singkat menunjukkan pilihan yang berisiko untuk masuk ke jalan.

Anak-anak memainkan simulasi lagi setelah tiga bulan terapi PAP dengan mesin yang mengukur jam penggunaan setiap malam. Anak-anak dianggap mengikuti terapi jika mereka menggunakan perangkat selama empat jam atau lebih setiap malam.

Tim peneliti menemukan, sekitar setengah dari anak-anak yang mengikuti terapi PAP selama tiga bulan, anak-anak itu mengalami pengurangan yang signifikan dalam hal serangan oleh kendaraan virtual.  Penulis penelitian menghitung., ketika tidak diobati, anak-anak 12 kali lebih mungkin dibandingkan dengan anak-anak yang patuh untuk mendapatkan hasil simulasi,

"Terapi PAP kadang-kadang sulit. Ini bisa menjadi tidak nyaman dan sulit diikuti," kata Schwebel. Tetapi menurutnya itu akan membantu rasa kantuk dan juga akan membantu dengan banyak aspek kehidupan lainnya, seperti sekolah, kehidupan sosial, dan suasana hati anak.

Banyak spesialis tidur awalnya merekomendasikan pembedahan untuk sebagian besar anak-anak yang didiagnosis Apnea Tidur, sehingga PAP lebih jarang dibahas. "Namun, untuk anak-anak yang lebih besar atau anak-anak yang kelebihan berat badan, operasi mungkin tidak efektif," kata Dean Beebe dari Cincinnati Children's Hospital di Ohio, yang tidak terlibat dengan penelitian ini.

"Perawatan PAP lebih sering digunakan untuk orang dewasa, di mana operasi tidak berhasil sama sekali," katanya dalam sebuah wawancara telepon.

Dia pun menuturkan, studi selanjutnya harus melihat apnea tidur yang terkait dengan keamanan remaja yang mengemudi serta anak-anak yang naik sepeda ke sekolah. Terapi PAP dapat membantu mereka untuk lebih berkonsentrasi di jalan.

"Jika anak Anda mendengkur dengan keras hampir setiap malam, inilah saatnya untuk membicarakannya dengan dokter Anda," katanya. Menurutnya, mendengkur sering kali bukan masalah besar, tetapi jika hampir setiap malam, itu tidak sehat dan merupakan penanda yang paling terlihat terkait masalah pernapasan selama tidur.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA