Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wednesday, 25 Jumadil Akhir 1441 / 19 February 2020

Wabah Campak Capai Tertinggi dalam Dekade di Eropa

Selasa 12 Feb 2019 07:44 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Indira Rezkisari

Vaksin MMR, pencegah campak.

Vaksin MMR, pencegah campak.

Foto: AP Photo/Eric Risberg
Di 2018, 47 dari 53 negara dalam wilayah WHO Eropa melaporkan kejadian campak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Jumlah orang yang terinfeksi campak di wilayah Eropa dilaporkan mencapai yang tertinggi dalam satu dekade. Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), tahun 2018 adalah yang tertinggi berdasarkan data yang baru dirilis tahun ini.

Terdapat 82.596 orang terinfeksi dan 72 orang (anak-anak dan orang dewasa) meninggal akibat campak pada tahun lalu. Sebanyak 61 persen dari mereka yang terinfeksi dirawat di rumah sakit, dilansir laman CNN.

WHO dalam sebuah pernyataan, mencatat bahwa jumlah infeksi itu mencapai tiga kali dari total yang dilaporkan pada tahun 2017 dan 15 kali rekor jumlah orang yang terkena dampak pada tahun 2016. Campak pada tahun 2018 dilaporkan di 47 dari 53 negara yang dalam wilayah WHO Eropa.

Sebanyak 92 persen kasus dilaporkan oleh 10 negara: Ukraina (53.218), Serbia (5.076), Israel (2.919), Prancis (2.913), Italia (2.517), Rusia (2.256), Georgia (2.203), Yunani ( 2.193), Albania (1.466) dan Rumania (1.987).

Sementara itu, Amerika Serikat sedang mengalami wabah campak di negara bagian New York, Kota New York dan negara bagian Washington. Dikatakan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS, infeksi dimulai ketika para pelancong pergi ke Israel dan Ukraina kemudian kembali ke AS.

"Strain D8 dalam wabah Washington cocok dengan strain dari wabah Eropa Timur yang sedang berlangsung. Ini konsisten dengan pengujian dari kasus yang diketahui pertama (seorang anak) dari wabah ini di WA. Semua kasus kami cocok dengan strain ini," tulis pernyataan Departemen Luar Negeri Washington Kesehatan melalui surat elektronik.

Campak adalah virus menular yang menyebar lewat udara, bisa melalui batuk dan bersin. Gejala seperti demam tinggi, ruam di seluruh tubuh, hidung tersumbat dan mata memerah biasanya hilang tanpa pengobatan dalam dua atau tiga pekan. Namun satu atau dua dari setiap 1.000 anak yang terkena campak akan meninggal karena komplikasi, menurut CDC.

Laporan baru juga menemukan bahwa lebih banyak anak-anak di wilayah tersebut divaksinasi daripada sebelumnya, meskipun jumlah total vaksinasi tidak tersedia. Dari catatan, 2017 juga merupakan tahun rekor untuk cakupan vaksinasi ketika 90 persen dari cakupan untuk dosis kedua vaksin campak dicapai untuk pertama kalinya.

"Gambaran untuk tahun 2018 memperjelas bahwa laju kemajuan saat ini dalam meningkatkan tingkat imunisasi tidak akan cukup untuk menghentikan sirkulasi campak," kata Dr. Zsuzsanna Jakab, direktur regional WHO untuk Eropa.

Sementara data menunjukkan cakupan imunisasi yang sangat tinggi di tingkat regional, namun jumlah yang terkena dampak dan terbunuh oleh penyakit ini juga kian banyak. Berarti celah di tingkat lokal masih menawarkan pintu terbuka untuk virus.

Dia mengatakan akan terus bekerja untuk meningkatkan tingkat vaksinasi. "Kita tidak dapat mencapai populasi yang lebih sehat secara global, seperti yang dijanjikan dalam visi WHO untuk lima tahun mendatang, jika kita tidak bekerja secara lokal. Kita harus berbuat lebih banyak dan melakukannya dengan lebih baik untuk melindungi setiap orang dari penyakit yang mudah dihindari," tambah Jakab.


Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA