Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Demi Kurangi Keramaian, Tokyo Metro Tawarkan Makanan Gratis

Selasa 22 Jan 2019 14:04 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Ani Nursalikah

Situasi penumpang kereta di Jepang.

Situasi penumpang kereta di Jepang.

Foto: Fotokon/IStock.com
Di jam sibuk, penumpang kereta sangat padat hingga kesulitan menggerakkan tubuh.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Salah satu jalur kereta bawah tanah Tokyo yang paling ramai mempunyai cara untuk menjangkau hati pelanggan melalui perut mereka. Perusahaan menawarkan makanan gratis untuk mengurangi kemacetan jam sibuk.

Sekitar 7,2 juta orang menggunakan sistem metro raksasa Tokyo setiap hari. Beberapa jalur mengalami kepadatan yang terkenal selama jam perjalanan. Di antara yang paling parah terkena dampaknya adalah jalur Tozai, yang kini mencoba menarik pengguna untuk naik kereta sebelum jam terburuk pagi hari dimulai.

Jika perusahaan bisa meyakinkan setidaknya 2.000 penumpang untuk naik kereta lebih awal selama dua pekan ke depan, Tokyo Metro, perusahaan yang mengoperasikan jalur itu, akan memberi tempura gratis bagi masing-masing penumpang itu.

Dan jika 2.500 orang menyelesaikan tantangan untuk bekerja lebih awal setiap hari selama periode tersebut, mereka masing-masing akan mendapatkan semangkuk soba gratis. Jika lebih dari 3.000 penumpang naik, mereka akan mendapatkan soba dan tempura.

Tawaran mi gratis datang ketika Pemerintah Metropolitan Tokyo meluncurkan inisiatif sendiri selama dua pekan ke depan untuk mendorong perjalanan di luar jam sibuk. Hampir 1.000 perusahaan ikut serta dalam kampanye. Hal ini memungkinkan staf mereka memulai dan mengakhiri pekerjaan lebih awal dari biasanya atau bekerja dari rumah.

Pejabat Metro telah lama mencoba berbagai kampanye untuk meringankan kondisi jam sibuk terutama di jalur Tozai. Jalur ini menghubungkan pinggiran timur Tokyo dan Chiba langsung ke distrik bisnis kota metropolis terbesar di dunia.

Selama satu jam dari pukul 07.50 hingga 08.50 waktu setempat, lebih dari 76 ribu penumpang menggunakan jalur itu. Jumlah tersebut dua kali lipat jumlah orang yang dirancang di jalur tersebut.

Juru bicara Metro Tokyo Takeshi Yamashita mengatakan kereta di jalur itu beroperasi dengan kapasitas 199 persen yang masih dianggap aman. Namun, penumpang sangat padat sehingga mereka kesulitan menggerakkan tubuh atau anggota badan mereka, sebut .

"Ini adalah jalur kami yang paling padat. Kami selalu berusaha mengurangi kemacetan jam sibuk. Kami berharap ini akan mendorong orang untuk melanjutkan (naik kereta api awal) untuk membantu meringankan situasi jam sibuk," kata Takeshi dilansir dari laman Malay Mail, Selasa (22/1).

Kemacetan komuter diperkirakan akan menjadi salah satu tantangan yang akan dihadapi Tokyo ketika menjadi tuan rumah Olimpiade musim panas tahun depan. Beberapa pakar mendesak inisiatif, termasuk tele-working untuk menghindari kekacauan selama Olimpiade.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA