Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Orang Baik Cenderung Alami Depresi

Selasa 22 Jan 2019 06:23 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Wanita tersenyum.

Wanita tersenyum.

Foto: Republika/Prayogi
Studi ini tidak membuktikan menjadi orang baik otomatis akan menyebabkan depresi.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang sering mengatakan berbuat baik untuk orang lain dan itu akan kembali kepada Anda dengan cara yang tidak terduga. Akibatnya, Anda selalu menjadi orang pertama yang meminjamkan bahu untuk menangis, orang pertama yang mengorbankan kebahagiaan Anda sendiri untuk orang lain dan bahkan bisa menjadi orang pertama yang secara sukarela membeli obat untuk rekan kerja yang batuk.

Walaupun semua kualitas ini membuat Anda menjadi orang yang menyenangkan, menjadi orang baik mungkin tidak begitu baik untuk kesehatan mental Anda. Dikutip di Times of India, Senin (21/1), menurut sebuah laporan baru-baru ini yang diterbitkan dalam jurnal Nature Human Behavior, orang yang lebih baik lebih mungkin melawan depresi.

Studi tersebut mengatakan jika seseorang sensitif terhadap ketidakadilan, dia cenderung mengalami depresi jika dibandingkan dengan seseorang yang sama sekali tidak terganggu atau bisa dibilang egois. Peneliti sampai pada kesimpulan ini dengan memberikan tes kepribadian kepada 350 orang untuk memisahkan mereka menjadi dua kelompok.

Dua kelompok ini adalah pro-sosial dan individualis berdasarkan pada cara berpikir seseorang. Menjadi pro-sosial berarti pengorbanan diri dan bersedia mempromosikan keadilan. Sedangkan menjadi individualis berarti egois dan peduli dengan menjaga diri mereka sendiri.

Setelah ini, peneliti juga mempelajari seberapa besar peserta ingin secara finansial membantu yang membutuhkan atau mereka yang kurang beruntung. Untuk mempelajari reaksi, peneliti memeriksa otak peserta di kedua kelompok dengan melakukan magnetic resonance imaging (MRI) untuk memeriksa bagian otak mana yang menyala selama situasi yang diberikan.

Hasilnya mengejutkan. Para peneliti menemukan pola otak untuk kedua kelompok (pro-sosial dan individualis) sangat berbeda dalam situasi di mana uang didistribusikan secara tidak merata.

Mereka yang termasuk dalam kelompok pro-sosial menunjukkan peningkatan aktivitas dalam amygdala mereka (bagian di otak yang bertanggung jawab atas emosi termasuk respons stres). Di sisi lain, otak orang yang individualis meningkatkan aktivitas di amigdala hanya ketika yang lain mendapat lebih banyak uang daripada yang mereka lakukan.

Untuk menindaklanjuti penelitian, para peserta diberi kuesioner tentang depresi, yang dikenal sebagai Beck Depression Inventory untuk menentukan apakah aktivitas otak itu terkait dengan gejala depresi. Hasilnya menunjukkan mereka yang berada dalam kelompok pro-sosial (orang-orang baik) lebih mungkin menderita gejala depresi. Studi ini tidak membuktikan menjadi orang baik secara otomatis akan menyebabkan depresi, tetapi orang yang peduli mungkin lebih rentan terhadap depresi berkat sifat empati mereka dan kemampuan merasa bersalah tentang ketidakadilan.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA