Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Selasa, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Cara Berbicara dengan Anak Soal Gangguan Mental

Selasa 22 Jan 2019 06:03 WIB

Rep: MGROL116/ Red: Ani Nursalikah

Remaja dan orang tua.

Remaja dan orang tua.

Foto: studyabroad
Anak perempuan berusia 17-19 tahun masuk kelompok risiko tinggi gangguan mental.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sebuah laporan utama asuransi kesehatan Inggris menemukan satu dari delapan anak remaja di Inggris yang berusia antara lima-19 tahun menderita gangguan kesehatan mental. Dikutip di The Independent, survei melibatkan data lebih dari 9.000 anak remaja yang tinggal di Inggris dan terdaftar di dokter umum mengalami kecemasan, depresi, dan OCD (Obsessive Compulsive Disorder) selama dekade terakhir.

Sebanyak satu dari 18 anak berusia dua hingga empat tahun sekarang memiliki setidaknya satu kondisi gangguan kesehatan mental. Anak perempuan berusia 17-19 tahun diidentifikasi sebagai kelompok risiko tinggi.

Satu dari empat anak perempuan menderita gangguan. Sebanyak 46,8 persen anak-anak dalam kategori usia ini berusaha melukai diri sendiri atau bunuh diri.

Kesehatan emosional anak-anak sama pentingnya dengan kesehatan fisik mereka. Berbicara dengan anak tentang masalah mental bisa jadi hal yang menantang. Namun, membicarakannya bisa menjadi langkah pertama yang penting dalam membantu anak menemukan dukungan yang dibutuhkan.

Kepala layanan lembaga amal kesehatan mental anak-anak Place2Be, Sarah Kendrick, mengungkapkan apa yang boleh dan tidak boleh ketika berbicara dengan remaja yang Anda pikir mungkin kesulitan mengatasi masalah mentalnya, sebagai berikut.

Gunakan bahasa yang sesuai dengan usia

Tidak pernah terlalu dini atau terlalu terlambat untuk mulai memikirkan kesehatan mental anak Anda. "Namun, pastikan Anda memilih kalimat atau bahasa dengan hati-hati," kata Kendrick.

Sejak usia muda, anak-anak mulai memahami perasaan dan kekhawatiran yang sulit. Mengacu pada tokoh-tokoh dalam buku cerita atau di TV dapat menjadi cara yang membantu membuat mereka berpikir tentang berbagai emosi dan cara mengatasinya.

Berikan ketenangan pada anak

"Penting untuk jujur dengan anak-anak Anda dan menjawab pertanyaan mereka, tetapi berhati-hatilah untuk tidak membombardir mereka," ujar Kendrick.

Dia menyarankan menjawab dengan sederhana dan dengan cara yang mengatasi kecemasan pribadi mereka. Periksa apa yang ingin mereka ketahui, jadi Anda fokus pada apa yang mereka minta.

Tunggu saat yang tepat

Jika Anda menyadari adanya masalah, mungkin tergoda untuk segera masuk dan mendesak mereka untuk mengobrol. Tetapi, terkadang menunggu sampai situasi sudah tenang bisa menjadi pendekatan terbaik.

"Menemukan cara untuk tidak menekan mereka, seperti di dalam mobil atau aktivitas yang tenang dapat membantu percakapan dan anak tidak merasa diinterogasi," kata Kendrick.

Jangan berpura-pura memiliki semua jawaban

“Daripada langsung menyarankan solusi, cobalah berpikir dengan anak Anda tentang apa yang mungkin bisa membantu dan dapatkan jawabannya bersama-sama,” kata Kendrick. Itu akan membantu memberdayakan anak dan memberi mereka perasaan memiliki kendali atas situasi mereka.

Baca juga: Banyak Orang Tua tak Sadar Anak Remaja Memikirkan Bunuh Diri

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA