Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Thursday, 17 Rabiul Awwal 1441 / 14 November 2019

Risiko dan Penyebab Kanker Nasofaring

Rabu 09 Jan 2019 17:55 WIB

Rep: Umi Nur Fadhilah/ Red: Friska Yolanda

Kanker nasofaring

Kanker nasofaring

Foto: NP Screen
Orang yang pernah merokok memiliki peningkatan risiko kanker nasofaring.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Kanker nasofaring tengah menjadi perbincangan di tengah masyarakat. Hal itu lantaran pendakwah Ustaz Arifin Ilham dirawat karena mengidap penyakit tersebut.

Dilansir laman organisasi amal terdaftar di Inggris dan Wales Cancer Research UK, banyak hal yang menjadi risiko dan penyebab terkena kanker nasofaring. Risiko itu termasuk faktor usia, genetika, gaya hidup, dan lingkungan.

Setiap kanker memiliki risiko berbeda yang dapat meningkatkan terkena penyakit itu. Namun, memiliki satu atau lebih faktor risiko, tidak berarti Anda akan terkena kanker itu.

Dalam laman tersebut, kanker nasofaring sangat jarang terjadi di Inggris. Pun penyakit tersebut lebih sering terjadi pada pria daripada wanita.

Ada banyak faktor risiko yang menyebabkan kanker nasofaring, seperti, infeksi Virus Epstein Barr (EBV). EBV paling umum dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring. Namun, tidak sedikit orang yang membawa EBV, tetapi tidak membahayakan diri mereka. Virus itu terkait dengan kanker lain, termasuk limfoma Hodgkin (kanker pada sistem limfatik yang merupakan bagian dari sistem kekebalan tubuh) dan limfoma Burkitt (limfoma Burkitt dikaitkan dengan gangguan imunitas dan dapat menjadi fatal dengan cepat apabila tidak ditangani), yang merupakan jenis limfoma non-Hodgkin.

Baca juga, Mengenal Kanker Nasofaring yang Diderita Ustaz Arifin Ilham

EBV dapat menyebabkan perubahan genetik dalam sel yang membuatnya lebih mungkin menjadi kanker di masa mendatang. Sekitar delapan dari 10 kasus kanker nasofaring di Inggris (80 persen) disebabkan oleh EBV. Namun, banyak orang terinfeksi EBV dan tidak berkembang menjadi kanker.

Orang yang pernah merokok memiliki peningkatan risiko kanker nasofaring. Namun, risiko lebih tinggi ada pada perokok jangka panjang.

Selain itu, makanan tertentu dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring. Kanker nasofaring lebih umum di beberapa bagian Asia dan Afrika Utara, daripada di Eropa. Pun kanker ini biasa dialami orang yang diet tinggi pada daging asap dan ikan asin, atau makanan acar. Makanan itu sangat tinggi bereaksi dalam senyawa nitrat dan nitrit. Kemudian, bereaksi dengan protein untuk membentuk nitrosamin atau zat kimia itu dapat merusak DNA.

Studi di Asia menunjukkan bahwa orang Cina yang makan ikan yang diawetkan dan asin, berisiko lebih tinggi terkena kanker nasofaring. Orang-orang dari Cina, atau keturunan Cina yang tinggal di Inggris, memiliki risiko terkena kanker nasofaring yang lebih tinggi daripada kelompok etnis lainnya. Ada juga beberapa bukti bahwa makan banyak buah dan sayuran dapat menurunkan risiko kanker nasofaring.

Baca juga, Beragam Pilihan Pengobatan Kanker Nasofaring

Risiko terkena kanker nasofaring lebih tinggi pada orang yang memiliki kerabat dekat yang pernah mengalaminya. Peningkatan risiko itu mungkin disebabkan oleh gen bawaan, serta faktor lingkungan dan gaya hidup.

Selain itu, orang yang terpapar debu kayu karena pekerjaannya, memiliki peningkatan risiko kanker nasofaring. Laman tersebut tidak menjelaskan bagaimana debu kayu bisa meningkatkan risiko kanker nasofaring. Namun, diperkirakan hal itu disebabkan karena menghirup kayu yang memilki bahan kimia.

Orang yang terpapar formaldehid (juga disebut metanal atau formalin) juga memiliki risiko terkena kanker nasofaring. Formaldehid adalah bahan kimia industri yang digunakan untuk membuat bahan kimia dan bahan bangunan lainnya.

Ada beberapa penelitian yang menunjukkan bahwa minum alkohol dapat meningkatkan risiko kanker nasofaring, tetapi buktinya tidak jelas. Namun dapat dipastikan, minum alkohol dapat menyebabkan kanker kepala dan leher lainnya. 

 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA