Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Cara Memperbaiki Pola Asuh Permisif

Kamis 03 Jan 2019 12:41 WIB

Rep: Desy Susilawati/ Red: Ani Nursalikah

Orang tua dan anak

Orang tua dan anak

Foto: pixabay
Langkah pertama adalah memahami betapa pentingnya batasan bagi anak.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Para peneliti mengatakan pola pengasuhan permisif merupakan pola asuh yang gagal. Pola asuh ini dinilai tidak memiliki aturan.

Namun jangan khawatir, jika Anda terlalu permisif, belum terlambat untuk mulai menetapkan batas. "Ingat, bukan tugas orang tua untuk membuat anak mereka bahagia. Sebaliknya, tugas mereka adalah mendukung anak mereka dalam memahami dan mengelola seluruh emosi mereka," ujar Laura Markham, penulis buku Peaceful Parent, Happy Kids seperti dilansir di Good HousekKeeping, Selasa (1/1).

Langkah pertama adalah memahami betapa pentingnya batasan terhadap rasa aman, keamanan, dan harga diri anak. Selanjutanya coba langkah-langkah berikut.

Setujui aturan keluarga

Berusaha keras untuk tetap tenang ketika aturan-aturan itu tidak diikuti.  "Ingat tetap terhubung dengan anak Anda adalah hal yang memberinya motivasi untuk mengikuti aturan Anda," ujar Markham.

Dia juga mengatakan untuk memperhatikan saat-saat ketika Anda tidak menetapkan batas karena perasaan sakit hati anak Anda membuat Anda tidak nyaman, tapi bersedia menghadapi ketidaknyamanan Anda sendiri.

Tetapkan rutinitas

Debbie Zeichner menambahkan semua anak ingin merasakan rasa memiliki dan merasakan bahwa mereka penting dan memiliki sesuatu yang bermakna untuk disumbangkan. "Jika Anda kesulitan keluar dari pintu di pagi hari, tanyakan kepada anak Anda langkah-langkah apa yang harus Anda ambil agar pergi tepat waktu."

Lakukan diskusi ide dan buatlah rencana bersama. Melakukan hal itu memupuk koneksi, rasa hormat serta memecahkan masalah.

Jangan pernah mengabaikan perilaku buruk

Anda bisa mulai dengan mengatakan, "Kamu meneriaki ibu/ayah. Kita tahu kita tidak boleh berteriak satu sama lain. Kamu pasti sangat kesal. Coba cerita tentang hal itu" .

Tapi jangan abaikan itu. Dan kemudian, ketika semua orang tenang, Anda bisa mengatakan kepada anak, "Ibu/ayah akan selalu mendengarkan apa yang kamu katakan. Ibu/ayah tidak akan berteriak pada kamu. Ibu/ayah berharap kamu memberi tahu mengapa kamu kesal tanpa berteriak padaku".

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA