Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Tuesday, 22 Rabiul Awwal 1441 / 19 November 2019

Jaga Psikologis Anak Tetap Sehat Saat Ortu Bercerai

Jumat 28 Dec 2018 09:38 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ani Nursalikah

Ilustrasi

Ilustrasi

Foto: Antara/Muhammad Adimadja
Hal yang lebih menyeramkan bagi anak adalah ketidakpastian setelah orang tua cerai.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anak dari orang tua yang bercerai menghadapi kenyataan harus tinggal bersama salah satu orang tuanya. Tetapi, perceraian orang tua bukanlah akhir segalanya bagi anak. Anak tetap bisa tumbuh kembang dengan baik secara psikologis dan fisiologis.

Psikolog Klinis Anak Personality Development Center dan Sekolah Khusus Bougenville Melissa Magdalena mengatakan, berdasarkan penelitian, ada peningkatan perceraian setiap tahunnya. Hal itu sebenarnya menjadi faktor pendukung informasi bagi anak mengetahui definisi perceraian. Namun, orang tua tetap punya tanggung jawab memberikan pengertian kepada anak.

"Misalnya, tante dan omnya bercerai sehingga dia lebih paham, bukan sekadar definisi. Tapi untuk maklum atau nggak, orang tua punya tanggung jawab memberi penjelasan apa itu perceraian, kondisi, dan bagaimana peraturan. Kita nggak tahu anak selalu maklum atau nggak. Asalkan orang tua memberi penjelasan, diskusi terbuka," kata Melissa.

Orang tua perlu meyakinkan sistem dukungan untuk anak tidak akan hilang. Contohnya, meyakinkan sisi finansial di mana anak diberi penjelasan mereka akan tetap dibiayai. Hal ini bisa meningkatkan toleransi anak.

Diskusi terbuka sebaiknya disesuaikan dengan usia anak. Usia mempengaruhi pemikiran dan pemahaman anak.

Usia lima tahun ke bawah cenderung belum mengerti hal yang terlalu abstrak. Jika orang tua kesulitan mengkomunikasikan, bisa mencari bantuan profesional. Ada informasi yang yang mesti dibuka dan disaring disesuaikan dengan usia.

Beritahu anak meski ibu dan ayahnya beda tempat tinggal, anak akan tetap mendapatkan hak-haknya. Dengan begitu kepercayaan anak kepada ortunya meningkat dan tidak tumbuh dengan kecenderungan perilaku negatif.

Hindari memberikan informasi yang ada hubungannya dengan hubungan suami-istri. Penyebab perceraian tidak perlu semuanya disampaikan. Hal yang perlu dijelaskan adalah kondisi orang tua dan anak.

Hal yang lebih menyeramkan bagi anak adalah ketidakpastian setelah orang tuanya bercerai. Selain itu, perceraian juga tentunya bisa membuat terpukul apabila sang anak merasa selama ini hubungan orang tuanya tampak baik-baik saja.

"Jangan misalnya bilang, papa kamu selingkuh, tidak bertanggung jawab, masalah ekonomi. Yang diberikan seharusnya menyangkut status orang tua dan anak," katanya.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA