Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Bagaimana Asupan Nutrisi Bisa Pengaruhi Kehamilan?

Jumat 30 Nov 2018 05:38 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Ilustrasi Ibu Hamil

Ilustrasi Ibu Hamil

Foto: pixabay
Berat badan ibu selama hamil mempengaruhi pertumbuhan bayi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Nutrisi yang baik mendorong kehamilan lebih sehat dan lebih nyaman. Ini memberi Anda banyak energi, mengurangi risiko komplikasi, seperti anemia, morning sickness, dan sembelit.

Nutrisi buruk di sisi lain memicu masalah kehamilan. Bentuk gangguan yang bisa muncul, seperti berat badan bayi lahir rendah, Intrauterine Growth Restriction (IUGR), komplikasi kehamilan, kelahiran prematur, bayi lahir sakit atau cacat bawaan, keguguran, penyakit kronis di kemudian hari, bahkan kematian ibu dan anak.

Dilansir dari Verywell Family, Kamis (29/11), ada sejumlah faktor yang memengaruhi asupan nutrisi dan gizi ibu hamil. Faktor tersebut mulai dari usia, berat badan sebelum hamil, kesehatan prakehamilan, status sosial ekonomi, sudah berapa kali hamil, kebiasaan merokok, konsumsi alkohol, obat-obatan, diabetes, tekanan darah tinggi, penyakit ginjal, jantung, kanker, depresi, dan penyakit menular, seperti HIV AIDS.

Berat badan ibu sebelum dan sepanjang kehamilan memengaruhi pertumbuhan dan perkembangan bayi, termasuk berat bayi lahir dan kesehatan jangka panjangnya. Dokter biasanya akan merekomendasikan berat badan ideal untuk Anda dengan memantau lewat timbangan dan indeks massa tubuh (BMI).

Wanita dengan berat badan rata-rata biasanya mengalami kenaikan berat badan 11-15 kilogram (kg) sepanjang kehamilan. Wanita dengan berat badan kurang atau kurus disarankan menaikkan berat badan 12-18 kg sepanjang kehamilan.

Wanita dengan berat badan di atas rata-rata disarankan mempertahankan kenaikan berat badan 7-11 kg. Wanita gemuk biasanya disarankan mempertahankan kenaikan bera badan di kisaran 5-9 kg. Rata-rata wanita sehat mencatat pertambahan berat badan maksimal tiga kg di tiga bulan pertama kehamilan, kemudian 200-500 gram per pekan sampai persalinan.

Kurus sebelum hamil bisa memicu berat badan bayi lahir rendah dan kelahiran prematur. Bayi-bayi kategori ini berisiko tinggi masalah kesehatan tertentu di kemudian hari, seperti penyakit jantung, tekanan darah tinggi, dan diabetes.

Gemuk sebelum hamil atau bertambah gemuk sepanjang kehamilan juga berisiko masalah komplikasi kehamilan, mulai dari tekanan darah tinggi, diabetes gestasional, preeklampsia, persalinan prematur, persalinan melalui c-section, dan bayi terlahir juga obesitas. 

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA