Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Pakar Menyebut Generasi I Mudah Depresi Akibat Ponsel

Rabu 14 Nov 2018 05:00 WIB

Rep: Noer Qomariah Kusumawardhani/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Remaja Putri dengan ponsel. (ilustrasi)

Remaja Putri dengan ponsel. (ilustrasi)

Foto: THINK STOCK
Ahli meminta orang tua sedari awal menjauhi anak dan remaja dari ponsel pintar

REPUBLIKA.CO.ID, SAN DIEGO -- Profesor Universitas Negeri San Diego, Jean Twenge melihat ponsel pintar dan media sosial dapat meningkatkan jumlah iGen atau Generasi I yang tidak bahagia. iGen adalah generasi yang lahir pada 1995 ke atas dan menghabiskan masa remaja mereka dengan ponsel pintar.

Baca Juga

Jean menyebut iGen menghabiskan lebih banyak waktu berselancar di dunia daring di media sosial dan bermain gim. Selain menghabiskan lebih sedikit waktu pada aktivitas non layar, seperti membaca buku, tidur, atau berinteraksi tatap muka dengan teman mereka.

"Anak-anak itu tumbuh lebih lambat. Pada usia 18 tahun mereka cenderung tidak memiliki surat izin mengemudi, bekerja paruh waktu, pergi berkencan, atau pergi keluar tanpa orang tua mereka dibandingkan dengan remaja di generasi sebelumnya," tutur dia Seperti yang dilansir dari Malay Mail, Selasa (13/11). Jean menyebut Generasi I adalah kelanjutan dari Boomers, Generasi X dan Milenial.

Hanya saja generasi I cukup sensitif bahkan ketika harus berhadapan dengan orang lain. Mereka sebenarnya menyadari bahwa berada di depan ponsel terus menerus membuat mereka tak bahagia. "Mereka tidak suka ketika mereka berbicara dengan seorang teman dan teman mereka melihat ponsel mereka," ucap dia.

Banyak dari mereka memiliki pengakuan atas kerugian dari jenis kehidupan itu. “Sekitar 2011 dan 2012, saya mulai melihat lebih banyak perubahan mendadak remaja, seperti merasa kesepian, ditinggalkan, atau mereka tidak dapat melakukan sesuatu dengan benar,” ujar Twenge.

Ini merupakan gejala klasik depresi. Gejala depresi meningkat 60 persen hanya dalam waktu lima tahun dengan tingkat kerusakan diri seperti memotong diri mereka dan bunuh diri.

Twenge kemudian memberikan nasihat pada orang tua soal penggunaan media sosial. Penelitian menyarankan untuk membatasi penggunaan media digital hingga sekitar dua jam sehari atau kurang.

Anak boleh menggunakan media sosial untuk tetap berhubungan dengan teman-teman. Orang tua juga bisa membantu merencanakan sesuatu dan tonton sedikit video di bawah batas dua jam untuk usia 13 hingga 18 tahun. “Jika anak anda membutuhkan telepon, berikan telepon yang tidak memiliki internet dan semua godaan dari ponsel pintar,” katanya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA