Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Tingkat Kesembuhan Penderita TBC Masih Jauh dari Target

Kamis 01 Nov 2018 17:46 WIB

Rep: Eko Widiyatno/ Red: Yusuf Assidiq

Penyakit TBC (ilustrasi).

Penyakit TBC (ilustrasi).

Foto: gsahs.nsw.gov.au
Kasus kematian penderita TBC selama masa pengobatan, juga masih relatif tinggi.

REPUBLIKA.CO.ID, PURBALINGGA -- Tingkat kesembuhan penderita sakit Tuberculosis (TBC) di Purbalingga, Jawa Tengah, masih belum bisa mencapai target. Berdasarkan data profil kesehatan Purbalingga pada 2017, tingkat kesembuhan penderita TNC baru mencapai 78,69 persen.

''Angka ini masih jauh di bawah target 85 persen yang ditetapkan Pemkab Purbalingga,'' jelas Koordinator Comunity TBC-HIV Care Aisyiyah Sub Purbalingga, Imam Nur Faozi.

Disebutkan, dengan tingkat kesembuhan tersebut, maka jumlah kasus kematian penderita TBC selama masa pengobatan, juga masih relatif tinggi. ''Pada 2017, jumlah kematian akibat TBC mencapai 33 kasus. Angka ini bahkan mengalami peningkatan dibanding 2016 yang tercatat 23 kasus,'' jelasnya.

Bahkan dia menyebutkan, tingkat kesembuhan penderita TBC di Purbalingga, masih jauh lebih rendah dari tingkat kesembuhan secara nasional. Untuk tingkat nasional, tingkat kesembuhan TBC juga baru mencapai 84 persen. Angka ini masih jauh di bawah target sebesar 85 persen.

Untuk  menurunkan kasus kematian akibat TBC, ujarnya, dibutuhkan komitmen kuat dari pengambilan kebijakan dalam hal ini pemerintah daerah. Dalam masalah ini, Community TBC-HIV Care Aisyiyah telah ikut berpartisipasi antara lain dengan menentukan tim kelompok masyarakat peduli (KMP) TBC.

''Kita juga telah melukakan kerjasama dengan instansi pemerintah dan lintas sektor. Merawat isu TBC dan meningkatkan advokasi kepada masyarakat atau kelompok yang belum memiliki pemahaman mengenai penyakit TBC,'' katanya.

Imam menambahkan, berdasarkan data tersebut,  saat ini diperlukan sosialisasi gerakan penanganan TBC secara masif di tengah masyarakat. Terlebih mengingat penularan penyakit TBC, jauh lebih cepat dibandingkan dengan penularan penyakit HIV-AIDS.

Menurutnya, rendahnya alokasi anggaran dari pemerintah khusus untuk pengendalian TBC dan masih tingginya ketergantungan terhadap donor internasional, berimbas pada permasalahan kesehatan yang perlu didanai. Padahal, penyakit TBC masih menjadi penyebab kematian nomor empat setelah diabetes, jantung, dan stroke.

Terkait dengan hal itu,  Comunity TBC-HIV Care Aisyiyah Sub Purbalingga menggelar kegiatan advokasi Fundraising dan Media Campaign yang berlangsung selama tiga hari. Melalui kegiatan itu, isu mengenai penyakit TBC diharapkan tetap terjaga di berbagai media, baik media massa maupun media sosial, sehingga ada upaya penanggulangan yang lebih serius dari pemerintah.

''Isu TBC diharapkan bisa menjadi warning bagi masyarakat bahwa penyakit ini masih ada di tengah masyarakat dan belum bisa diatasi,''' katanya.

Kegiatan Fundraising dan Media Campaign diikuti perwakilan dari PD Muhammadiyah, PD Aisyiyah, koordinator TBC Care, PC Muslimat NU, Komisi Penanggulangan Aids Daerah, Ikatan bidan Indonesia, Persatuan perawatan Nasional Indonesia, Purbalingga Peduli, Kelompok Dukungan Sebaya (KDS), dan Senyum Anak Indonesia.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA