Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Sabtu, 30 Jumadil Awwal 1441 / 25 Januari 2020

Studi: Orang Tinggi Lebih Berisiko Terkena Kanker

Rabu 24 Okt 2018 11:51 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Tinggi badan ternyata berpengaruh pada risiko kanker

Tinggi badan ternyata berpengaruh pada risiko kanker

Foto: fitoleaf.blogspot.com
Masyarakat diminta tak khawatir karena faktor gizi dan rokok lebih berpengaruh

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Orang yang lebih tinggi memiliki risiko kanker yang lebih besar. Hal ini terjadi karena mereka lebih besar dan memiliki lebih banyak sel di tubuh sehingga mutasi berbahaya dapat terjadi.

Sejumlah penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara perawakan tinggi dan risiko lebih besar mengembangkan beberapa bentuk kanker. Penelitian menunjukkan untuk setiap 10 cm tinggi dalam kisaran tubuh manusia, risiko meningkat sekitar 10 persen.

Hubungan serupa juga ditemukan pada anjing. Dengan bentuk yang lebih besar memiliki risiko lebih besar terhadap penyakit semacam itu.

Para ilmuwan telah mengajukan sejumlah penjelasan yang berbeda untuk ini, termasuk  hormon pertumbuhan tertentu dapat memainkan peran baik pada tinggi dan kanker. Di samping itu faktor lingkungan seperti nutrisi atau penyakit masa kanak-kanak pun bisa menjadi faktor.

"Salah satu hipotesis utama adalah sesuatu terjadi di awal kehidupan yang membuat sel-sel Anda lebih rentan terhadap kanker dan, semacam kebetulan, menyebabkan Anda menjadi tinggi," kata profesor biologi di University of California Riverside Leonard Nunney, dikutip dari ThrGuardian, Rabu (24/10).

Namun, Nunney mengatakan, dia telah menganalisis angka-angka untuk menunjukkan itu mungkin menjadi masalah yang lebih sederhana. Dari hasil analisis itu orang yang tinggi hanya memiliki lebih banyak sel untuk sesuatu yang salah masuk.

Penelitian yang diterbitkan dalam Proceedings of the Royal Society B, mengungkapkan model fundamental tentang bagaimana kanker berkembang, di mana individu mengakumulasi mutasi dalam sel mereka selama hidup. Kalau serangkaian mutasi tertentu timbul maka kanker tertentu akan memulai. Teori ini menunjukkan memiliki lebih banyak sel atau lebih banyak divisi per sel akan meningkatkan risiko kanker.

Nunney membandingkan risiko keseluruhan pria dan wanita yang mengidap kanker jenis apapun dengan peningkatan tinggi badan. Seperti yang ditemukan dari penelitian sebelumnya pada kelompok besar, dengan apa yang mungkin diharapkan dari perhitungan berdasarkan jumlah sel dalam tubuh menunjukan hasil yang sama.

Studi ini menemukan 13 persen peningkatan risiko bagi wanita untuk setiap penambahan 10 cm dibandingkan dengan 12 persen dari pengamatan. Kemudian 11 persen  peningkatan yang diprediksi pada pria untuk setiap 10 cm lebih tinggi dibandingkan dengan 9 persen terlihat dalam kehidupan nyata.

Secara keseluruhan, peningkatan risiko dengan tinggi terlihat pada 18 dari 23 jenis kanker yang dipertimbangkan. Nunney mengatakan, beberapa jenis kanker mungkin tidak menunjukkan kaitan karena efek ketinggianseperti infeksi HPV untuk kanker serviks.

Meskipun demikian, Nunney menyatakan temuan itu menunjukkan banyaknya sel penting. "Apakah itu berasal dari diet yang lebih baik atau fakta orang tua Anda tinggi tidak masalah itu murni sejumlah sel, namun itu terjadi," katanya.

Direktur Institut Penelitian Ilmu Molekuler dan Ilmu Klinik di St George's, University of London Prof Dorothy Bennett mengatakan, perhitungan Nunney melibatkan sejumlah asumsi. Contoh saja risiko kanker yang meningkat dalam proporsi langsung ke ketinggian orang dewasa.

"Penyederhanaan tampak masuk akal, dan oleh karena itu kesimpulan studi utama mungkin akan menjadi yang paling didukung terbaik yang tersedia saat ini, yaitu untuk sebagian besar jenis kanker, jumlah sel dapat memprediksi hubungan numerik yang cukup baik antara tinggi badan dan kanker, tanpa perlu menyarankan faktor tambahan," ujar Prof Bennett.

Prof Bennett mengatakan, tidak ada alasan yang jelas melanoma harus memiliki hubungan yang sangat kuat dengan tinggi badan seperti yang diungkapkan studi Nunney. Dalam studi itu mengungkapkan kanker kulit melanoma menunjukkan hubungan yang lebih kuat dengan tinggi.

Hal ini mungkin terjadi pada orang lebih tinggi yang memiliki tingkat hormon pertumbuhan yang disebut IGF-1 sedikit lebih tinggi. Sedikit peningkatan dalam tingkat pembelahan sel, sebagai akibat dari tingkat IGF-1 yang lebih tinggi, mungkin memiliki efek yang lebih kuat pada sel-sel ini daripada di jaringan lain. Mungkin karena melanoma memerlukan mutasi yang lebih besar untuk berkembang daripada kanker lainnya.

Cancer Research UK Georgina Hill menyatakan, orang tidak perlu khawatir tentang tinggi badan. Sebab, sejumah penelitian sebelumnya menyatakan tingkat risiko hanya kecil.

"Namun, peningkatan risikonya kecil dan ada banyak yang dapat Anda lakukan untuk mengurangi risiko terkena kanker, seperti tidak merokok dan menjaga berat badan yang sehat," ujar Hill.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA