Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Tuesday, 10 Rabiul Awwal 1442 / 27 October 2020

Serangan Panik dan Serangan Cemas Ternyata Berbeda

Rabu 24 Oct 2018 08:23 WIB

Rep: Mutia Ramadhani/ Red: Indira Rezkisari

Stres kerap memicu munculnya serangan kecemasan atau kepanikan.

Stres kerap memicu munculnya serangan kecemasan atau kepanikan.

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Perempuan dua kali lebih mungkin mengalami mengalami kecemasan dari laki-laki.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anda mungkin pernah merasa jantung tiba-tiba berdegup kencang, tangan berkeringat, sesak napas, dan merasa ketakutan. Beberapa orang menyebut ciri di atas sebagai episode dari serangan kecemasan (anxiety attacks), sementara beberapa lain menyebutnya serangan panik (panic attacks).

Dua hal di atas ternyata berbeda. National Health Service (NHS) Inggris menyebut serangan panik adalah penyakit mental yang masuk ke dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5) yang diklasifikasikan American Psychiatric Association (APA).

Lebih dari satu dari 10 orang pasti pernah mengalami serangan kecemasan. Istilah ini lebih sering digunakan dan dijumpai dalam kehidupan, menurut psikolog dan Direktur Penelitian APA, C Vaile Wright. Seseorang yang mengalami serangan kecemasan hampir dipastikan juga mengalami serangan panik.

"Serangan panik adalah episode ketakutan yang sangat mendadak dan tiba-tiba, biasanya memuncak dalam 10 menit," kata Wright, dilansir dari Cosmopolitan.

Gejala serangan kecemasan menurut NHS Inggris meliputi detak jantung cepat, sesak napas, dada tegang, mulit kering, seperti ada kupu-kupu hinggap di perut, mual, mendadak ingin buang air kecil, gemetar, dan berkeringat. Serangan panik biasanya muncul pada remaja dan dewasa muda, dan gejalanya lebih biasa, seperti peningkatan denyut jantung.

Serangan panik dan serangan kecemasan bisa terjadi pada siapa saja, namun ada beberapa faktor yang membuat seseorang merasa terancam. Pertama, perempuan dua kali lebih mungkin mengalami mengalami kecemasan dari laki-laki, berdasarkan penelitian diterbitkan dalam Jurnal Brain and Behavior. Itu karena perbedaan dalam kimia otak dan hormon, serta cara wanita mengatasi stres.

Kedua, mereka yang sering mengalami gangguan panik memiliki gen disebut NTRK3 yang membesar-besarkan rasa takut dan merespons berlebihan rasa takut tersebut. Ini berdasarkan penelitian diterbitkan dalam Jurnal Neuroscience.

Ketiga, gangguan kesehatan mental, seperti depresi juga rentan memicu serangan panik. Ada juga fobia sosial, gangguan obsesif-kompulsif terbukti membuat seseorang rentan terhadap serangan panik. Keempat, faktor lingkungan, seperti tertekan, kehilangan pekerjaan, kematian anggota keluarga.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA