Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Perki: Anak Muda Kini Banyak Terkena Jantung Koroner

Jumat 28 Sep 2018 17:16 WIB

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Serangan jantung kerap dikira angin duduk, karena diawali dengan nyeri dada.

Serangan jantung kerap dikira angin duduk, karena diawali dengan nyeri dada.

Foto: pexels
Dokter menyarankan anak muda aktif, jauhi rokok dan diet rendah garam

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Tak hanya usia tua atau lanjut usia, kini banyak anak muda yang baru berumur 50 tahun ke bawah sudah mendapat serangan penyakit jantung koroner (PJK).

Anggota Perhimpunan Dokter Spesialis Kardiovaskular Indonesia (Perki) Bambang Dwi Putra mengatakan, jika dahulu serangan jantung anak pada usia muda jarang, kini fenomena itu berbeda dengan saat ini. 

Ia menyebut di rumah sakit (RS) Jantung Harapan Kita tempat ia praktik sebagai dokter spesialis jantung, tercatat PJK banyak menyerang usia 50 tahun ke bawah. "Sehingga, serangan jantung yang terjadi pada anak muda dalam lima tahun terakhir bukanlah hal yang aneh atau baru," katanya saat press briefing bertema 'My Heart Your Heart', di Jakarta, Jumat (28/9).

Ia menjelaskan, anak muda yang dihadapkan dengan pilihan makanan siap saji, ayam olah seperti geprek, martabak manis hingga garam membuat anak muda mengkonsumsinya dan tidak mengatur makanannya."Intinya ada perubahan perilaku," katanya.

Tak hanya gaya hidup, ia menyebut PJK dipengaruhi multifaktor lainnya yaitu merokok. Selain itu, kata dia, kolestrol tinggi juga menjadi salah satu penyebab PJK. Faktor ketiga adalah hipertensi, keempat diabetes melitus, kemudian faktor selanjutnya usia dan faktor terakhir adanya riwayat keluarga yang menderita penyakit jantung. 

Faktor-faktor itu yang membuat serangan jantung terjadi yaitu dada merasa tertekan, diremas, disertai keringat dingin, mual muntah dan bisa menyebabkan kematian. Bahkan, seringnya penyakit itu terjadi membuat PJK menjadi salah satu penyebab kematian utama di Indonesia. Ia menyebutkan, prevalensi tingginya jantung koroner menjadi penyebab kematian tertinggi kedua setelah stroke. 

Bahkan, peningkatan penyakit jantung tersebut diprediksi masih menjadi penyebab kematian utama 2030 nanti.  Karena itu, untuk mencegah serangan jantung, ia memberi masukan masyarakat menerapkan diet rendah garam. Selain itu, kata dia, generasi produktif ini diminta rajin olahraga dan berhenti merokok. Pencegahan lainnya yaitu dengan rutin memastikan tekanan darah kurang dari 140/90 mmHg. Selain itu, untuk mengetahui kondisi jantung bisa melakukan tes EKG dan rajin melakukan tes keshatan minimal setahun sekali atau dua kali setahun.

"Intinya terapkan semboyan CERDIK yaitu Cek kesehatan secara berkala, Enyahkan asap rokok, Rajin aktifitas fisik,  Diet sehat dan seimbang, Istirahat cukup dan Kelola stres. Selain itu, lakukan slogan PATUH yaitu Periksa kesehatan secara rutin dan ikuti anjuran dokter, Atasi penyakit dengan pengobatan yang tepat dan teratur, Tetap diet seimbang dengan gizi seimbang, Upayakan aktivitas fisik dengan aman dan Hindari asap rokok, alkohol dan zat karsinogenik," ujarnya.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA