Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Thursday, 24 Rabiul Awwal 1441 / 21 November 2019

Diet Mediterania Bisa Perpanjang Hidup

Rabu 12 Sep 2018 10:47 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Friska Yolanda

Pelaku diet

Pelaku diet

Foto: Republika/Wihdan Hidayat
Semakin ketat menjalankan pola diet, usia hidup semakin panjang.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Banyak ragam diet yang dikembangkan era saat ini, semua menawarkan tubuh yang ramping dan sehat. Namun, diet Mediterania selangkah lebih jauh dengan hasil studi yang menunjukkan bisa memperpanjang kesempatan hidup bagi orang tua.

Diet Mediterania sudah sejak lama diakui menawarkan manfaat kesehatan dengan membantu menjaga jantung, tulang, otak dan bahkan umur panjang. Sebuah penelitian menunjukkan, mengikuti diet Mediterania dapat membantu memperpanjang hidup, bahkan bagi yang sudah berusia 65 tahun atau lebih.

Pola diet tersebut melibatkan makan makanan nabati, dengan sejumlah kecil daging tanpa lemak dan ayam. Pengikutnya diharuskan mengonsumsi lebih banyak porsi sayuran, buah-buahan, kacang-kacangan, biji-bijian mentah, minyak zaitun dan ikan.

Mematuhi diet semacam itu, menurut penelitian yang diterbitkan pekan lalu di British Journal of Nutrition, dikaitkan dengan 25 persen lebih rendah dari semua penyebab kematian di antara sampel orang dewasa yang lebih tua di wilayah Molise, Italia. Semakin ketat menjalankan pola diet tersebut, maka usia hidup semakin panjang.

"Itu berarti ketaatan yang lebih besar untuk diet ini, semakin besar manfaatnya," kata penulis pertama studi tersebut, Marialaura Bonaccio, dikutip dari CNN, Selasa (11/9).

Studi ini tidak menyelidiki secara tepat bagaimana diet dapat dikaitkan dengan kehidupan yang berkepanjangan. Namun, diet Mediterania kaya dengan makanan antiinflamasi, seperti minyak zaitun dan serat dan juga antioksidan, sehingga, memiliki peran dalam peningkatan umur panjang.

Untuk penelitian ini, para peneliti melacak kesehatan dan makanan dari 5.200 orang berusia 65 tahun ke atas. Orang dewasa yang terdaftar dalam studi antara 2005 hingga 2010, dan mereka ditindaklanjuti sampai dengan 31 Desember 2015. Setiap asupan makanan orang dewasa di tahun sebelum pendaftaran dinilai dalam kuesioner frekuensi makanan yang disebut EPIC.

Para peneliti mengukur kepatuhan setiap orang dewasa terhadap diet Mediterania dengan memberi mereka satu poin untuk mengonsumsi kelompok makanan dalam diet. Kelompok makanan itu seperti buah-buahan dan kacang-kacangan, sayuran, kacang-kacangan, ikan, sereal atau rasio lebih tak jenuh tunggal daripada lemak jenuh, dan untuk dimoderasi asupan alkohol.

Peneliti menemukan,  peningkatan satu poin dalam skor diet Mediterania setiap orang dikaitkan dengan risiko kematian yang lebih rendah dari semua penyebab yang ada. Selama rata-rata delapan tahun menindaklanjuti orang dewasa, menurut para peneliti, ada 900 kematian di antara mereka.

Mereka juga meninjau literatur ilmiah tentang manfaat kesehatan dari diet Mediterania dengan melakukan meta-analisis pada enam studi yang diterbitkan sebelumnya. Dalam meta-analisis serta hasil baru para peneliti sendiri, mereka menemukan setiap peningkatan satu titik dalam skor diet Mediterania dikaitkan dengan risiko kematian lima persen lebih rendah dari semua penyebab.

"Temuan utama, kepatuhan terhadap diet Mediterania adalah pelindung terhadap semua penyebab kematian dan juga terhadap beberapa hasil kardiovaskular dalam sampel orang tua," kata ahli epidemiologi di Mediterranean Neuromed Institute, sebuah rumah sakit dan lembaga penelitian di Pozzilli, Italia.

Penelitian dilakukan hanya pada orang dewasa berusia 65 dan lebih tua,  sehingga temuan ini tidak dapat digeneralisasikan ke kelompok usia lain. Namun, menurut asisten profesor ilmu makanan dan nutrisi di Ohio University  Mercedes Sotos-Prieto, penelitian ini menegaskan temuan sebelumnya tentang manfaat kesehatan dari diet Mediterania pada orang dewasa yang lebih tua.

"Ada bukti kuat yang diterbitkan selama dekade terakhir yang menunjukkan manfaat kesehatan dari mengikuti diet Mediterania," kata llmuwan tamu di Harvard TH Chan School of Public Health yang tidak terlibat dalam penelitian tersebut.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Persepektif Republika.co.id, Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA