Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Minggu, 21 Safar 1441 / 20 Oktober 2019

Ini Beragam Faktor Penyebab Bayi Bangun Malam Hari

Kamis 05 Jul 2018 07:52 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Ichsan Emrald Alamsyah

Bayi sering menangis, ilustrasi

Bayi sering menangis, ilustrasi

Lapar dan faktor lingkungan menjadi penyebab utama bayi bangun di malam hari

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Setiap orang tua sering was-was menjelang dini hari akibat tangisan bayi kecil mereka. Seringkali para orang tua baru hanya menunggu dengan napas tertahan, berharap bahwa sang buah hati hanya menangis satu atau dua kali.

Jika hal itu sering terjadi, berikut kemungkinan-kemungkinan yang membuat bayi Anda kerap terbangun di malam hari, dilansir Times of India, Rabu (4/7)

Menurut Dr. Richard Ferber, kemungkinan pertama adalah bayi merasa lapar. Ini terjadi pada bayi yang sudah terbiasa dirawat di waktu yang lama di malam hari. Ketika seorang ibu berhenti menyusui, bayi mungkin bangun di malam hari dan berharap diberi makan dan menangis ketika dia lapar di malam hari. 

Namun ketika Anda meningkatkan interval antara waktu makan atau menyusui, bayi akan belajar menyesuaikan diri dengan pola makan yang baru.

Faktor selanjutnya, lingkungan. di mana bayi bisa bangun pada jam yang tidak wajar dan menangis. Penggantian popok, misalnya, di mana banyak orang tua mungkin tidak menyadari hal ini.

Selain itu, boleh jadi akibat banyak saudara yang mengganggu tidur bayi secara tidak sengaja. Setiap kebisingan yang berasal dari lingkungan, seperti suara kipas, AC, klakson mobil juga bisa mengganggu tidur bayi.

Sebelumnya studi membuktikan proses melahirkan di dalam air merupakan proses melahirkan yang aman bagi ibu dan bayi. Melahirkan dalam air yang juga dikenal sebagai persalinan perendaman dan persalinan atau waterbirth, tampak aman untuk ibu dan bayi, setidaknya ketika itu terjadi di rumah sakit.

Peneliti dari University of Southampton di Inggris, Dr Elizabeth R. Cluett dan rekannya, mengevaluasi efek pencelupan air selama persalinan atau kelahiran. Mereka menggunakan informasi dari 15 penelitian yang melibatkan total 3.663 wanita.

Hasilnya, perendaman tidak memiliki efek berarti pada tingkat persalinan pervaginam spontan. Para penulis melaporkan dalam Cochrane Database of Systematic Reviews, proses melahirkan di air juga tak berefek berarti pada persalinan pervaginam dengan bantuan forsep atau alat lain, atau seksio sesarea.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA